Pelangi di atas Djambatan

Image

Wise men say… Life has to be balanced.

Ada berita buruk dan ada berita baik.

Berita buruk di awal tahun 2013 bagi dunia penerbitan Indonesia adalah tutupnya penerbitan Djambatan tepat di tanggal 1 Januari.

Sedikit cerita tentang Penerbit Djambatan ini, awalnya penerbitan ini milik Belanda bernama N.V. Uitgeversbedrijf Djambatan-Nederland, yang merupakan usaha gabungan antara perusahaan penerbit Indonesia dengan perusahaan penerbit Belanda.

Sejak 19 Februari 1954, pihak Indonesia di bawah pimpinan Kasuma Sutan Pamuntjak berhasil membeli seluruh saham milik Belanda dan sepenuhnya menjadi perusahaan Indonesia. Tanggal 19 Februari 1954 itulah yang kemudian dianggap sebagai berdirinya Penerbit Djambatan, yang juga merupakan salah satu penerbit tertua di Indonesia.

Buku-buku terbitan Djambatan yang populer di kalangan pembaca di Indonesia antara lain Ziarah, karangan Iwan Simatupang, yang memenangkan Hadiah Sastra Asean Pertama tahun 1977, kemudian buku Burung-burung Manyar, karya Y.B. Mangunwijaya, sebagai Pemenang Penghargaan Tulis Asia Tenggara 1983, dan Max Havelaar karangan Multatuli.

Karya-karya lain yang terkenal dari Djambatan adalah Tidak Ada Negara Islam: Surat-surat Politik Nurcholish Madjid dan Mohammad Roem, Peta Atlas Jakarta dan Jabodetabek karya Gunther W. Holtorf yang monumental, buku terjemahan Dr. Zhivago karangan Boris Pasternak, Ekonomi Terpimpin karangan Mohammad Hatta, Al-Quran Bacaan Mulia yang kontroversial karya H.B. Jassin, buku Kartini, Surat-surat kepada Ny. Abendanon Mandri dan Suaminya, Biografi Kartini, buku Gerpolek Tan Malaka, serta buku Non-Fiksi yang paling banyak dicetak ulang, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, karangan Koentjaraningrat. (sumber: http://bit.ly/1boL6si)

 

Sedih karena penerbitan Djambatan yang telah menghasilkan karya yang monumental dan telah menemani bangsa Indonesia sejak lama harus tutup.

But, like wise men also say… There’s a rainbow after the storm.

Here’s the good news!

Sabtu, 28 September lalu, Chairman Aksaramaya, Panya Siregar beserta CEO Aksaramaya, Lasmo menemui Mustafa Pamuntjak, anak dari Kasuma Sutan Pamuntjak (satu dari tiga pendiri penerbitan Djambatan), beserta putrinya, Laksmi. Aksaramaya berniat memigrasi digital buku-buku penerbitan Djambatan dan koleksi pribadi K. St Pamuntjak dengan total lebih dari 2000 buku!

Image

“Rasanya ingin langsung teriak bahagia!”, begitu reaksi spontan Panya mengetahui hal ini.

Bagaimana tidak? Ini merupakan satu tanggung jawab besar bagi Aksaramaya untuk bisa menjaga koleksi pustaka nasional Indonesia yang monumental!

Not just that, Laksmi Pamuntjak (cucu dari Kasuma Sutan Pamuntjak) yang juga seorang penulis sudah berminat untuk memberikan segenap karya tulisnya yang ada untuk koleksi e-bookstore Moco. Superb!

So, this is just a beginning. Next? Hard work. Hard work with faith in our heart, that this is gonna be great!

Can’t wait!