RaBuku – Rekomendasi Buku: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Image

Judulnya membuat pembaca membayangkan kisah ini seperti cerita tragis kapal Titanic yang digadang-gadang sebagai kapal yang tidak akan tenggelam. The unsinkable. Lalu, (dalam film Titanic) cerita cinta sepasang laki dan perempuan berbeda kasta dan mendapat banyak pertentangan yang berada di kapal tersebut menjadi fokus utamanya. 

Tidak jauh berbeda ternyata. Di film Titanic, tersebut seorang laki-laki muda miskin bernama Jack yang berhasil mendapat nasib bagus bisa menaiki kapal mahal itu, di novel ini, tersebutlah seorang Zainuddin. 

Malang benar nasib Zainuddin. Ayahnya keturunan Minangkabau yang memegang teguh sistem kekerabatan matrilineal, sedangkan sang ibu keturunan Bugis yang, sebaliknya, bersistem patrilineal. Kenapa malang? Begini ceritanya…

Pandekar Sutan, Ayah Zainuddin diusir dari kampung halaman ketika secara tak sengaja membunuh pamannya lalu pergi ke Makassar. Di Makassar, sang Ayah bertemu dengan perempuan Bugis lalu menikah, lahirlah Zainuddin. Tak sempat melihat Zainuddin besar, Ibunya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Ketika Ayahnya membesarkan dirinya, seringkali Ia menceritakan tentang kampung halamannya, tanah Minang yang indah, subur tanahnya, gunungnya yang tinggi. Saat Ayahnya meninggal, Zainuddin diasuh Mak Base, namun selalu terngiang olehnya kampung halaman Ayahnya yang juga kampung halamannya karena setengah darah dirinya adalah darah Minangkabau. 

Zainuddin memutuskan meninggalkan Mak Base untuk memperdalam ilmu agama di tanah Minang dan mendarat di kampung halaman sang Ayah. Sambutan yang tak hangat diterimanya di Batipuh karena Ia tak dianggap bagian dari orang Minang. Ibunya berdarah Bugis sedangkan Minangkabau menganut sistem Matrilineal sehingga lebih banyak yang menganggap Zainuddin orang Bugis. Ditambah dengan latar belakang Ayahnya yang menjadi orang terbuang. 

Satu hal yang membuat hatinya sedikit berbunga adalah pertemuannya dengan seorang wanita cantik dan solehah ketika bumi Batipuh sedang diguyur hujan deras. Tak membutuhkan waktu lama bagi Zainuddin untuk jatuh cinta kepada gadis yang diketahui bernama Hayati. Berawal dari surat dan berlanjut dengan surat-surat berikutnya, mereka membina komunikasi. 

Image

Sayang, Zainuddin harus pergi dari Batipuh menuju Padang Panjang karena Hayati dipinang oleh lelaki lain pilihan keluarganya, Aziz, yang dianggap lebih pantas mendampinginya. 

Apa yang terjadi selanjutnya? Wah, dibaca sendiri ya! Masih banyak kemalangan yang akan menimpa Zainuddin sebelum akhirnya kita akan tersenyum dengan nasib baik yang menghampiri.  

Ada beberapa bagian yang menimbulkan haru bagi kita, sang pembaca. Satu bagian yang menimbulkan haru dan rasa iba di dada buat saya adalah ketika Zainuddin jatuh sakit dan dokter mengatakan hanya seorang wanita yang bernama Hayati yang bisa membantu melegakan rasa sakitnya. Adegan terjadi di kamar Zainuddin yang tergeletak lemah dan memanggil nama Hayati. Didampingi suaminya, Aziz, Hayati hadir. Zainuddin memegang tangannya yang ternyata sudah bercincin, sungguh menyesakkan hati. 

 Image

Satu lagi adegan yang bisa membuat pembaca menitikkan air mata adalah ketika Hayati dan Zainuddin sudah berada di Surabaya, dan takdir memberi jalan kepada mereka berdua untuk bisa hidup berdampingan. Namun, Zainuddin memilih melepaskan Hayati pulang kembali ke Batipuh, padahal, sungguh sepenuh hati Hayati ingin berada di sampingnya. 

Bagaimana kisah akhirnya? Silahkan baca novel legendaris karya Hamka ini segera! Sebelum film dengan judul yang sama ditayangkan di bioskop di seluruh Indonesia. 

Image

Penulis : HAMKA

Penerbit : Balai Pustaka

Tahun : 1938