Tips Menulis: Mulailah dari Niat

Image

Judul diskusi kita sudah benar. Tips Menulis: Mulailah dari Niat. Karena seringkali para penulis merasakan kemacetan idea tau istilahnya writing block, maka kita diskusikan saja dulu tentang niat menulis.

Ada berbagai keinginan yang membuat seseorang kemudian menulis. Mulai dari ingin terkenal, ingin menyampaikan pesan tertentu atau ingin menghibur. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi kita tidak sedang ingin mendiskusikan satu persatu niat tersebut.

Oh ya, sekedar mencari rujukan dari KBBI maka niat adalah: 1 maksud atau tujuan suatu perbuatan: mudah-mudahan — baik Anda terwujud; 2 kehendak (keinginan dl hati) akan melakukan sesuatu: timbul lagi — nya untuk menyelesaikan studinya yg terhenti itu; — nya hendak berziarah ke Tanah Suci tahun ini, sudah bulat; 3 janji untuk melakukan sesuatu jika cita-cita atau harapan terkabul; kaul; nazar: janji ditepati, — harus dibayar; memasang — , berkaul; bernazar;

baik maksud baik; — hati keinginan (harapan) hati yg mantap; ber·ni·at v bermaksud (akan): ia ~ akan melanjutkan sekolahnya mulai tahun ini; ber·ni·at-ni·at v berharap (supaya); me·ni·at·kan v 1 melakukan sesuatu dng niat (memaksudkan): sejak dahulu saya memang sudah ~ semua itu; 2 menazarkan; mengaulkan: dia sudah ~ kalau anaknya sembuh, akan memotong kambing; 3 Mk mendoakan; mengharapkan;ter·ni·at v 1 sudah diniatkan; termaksud: kepergiannya ~ sejak dulu; 2 timbul niat: telah lama ~ olehnya akan mengunjungi ibunya di kampung

Beberapa penulis memulai dari, berita, pengalaman maupun ilmu atau pengetahuan tertentu, baik itu milik sendiri maupun dari orang lain. Tapi karena kita sedang membahas niat, maka sepertinya itu bukan niat. Itu adalah ide, itu adalah hal yang menjadi “bahan bakar” tulisan kita setiap saat, sejak kalimat pertama hingga kita mengakhiri tulisan. Ide, bukan niat.

Popularitas? Betul, kawan. Itu memang niat, walaupun banyak yang tidak suka dengan niat seperti itu. Bagi kebanyakan orang, popularitas bukanlah niat yang baik untuk menulis. Termasuk juga uang, bila itu dikatakan menjadi niat untuk menulis. Sama saja, kebanyakan orang menganggap, bahwa niat untuk mendapatkan uang bukanlah niat yang baik.

Tapi, katanya bisa saja menulis menjadi penghasilan yang mendukung kebutuhan hidup? Betul sekali, kita pernah juga mendiskusikan hal seperti itu. Mari kita lihat pekerjaan yang memberikan penghasilan utama untuk mendukung kehidupan kita sekarang. Atau Anda seorang pengusaha? Mari kita lihat hal tersebut, bagi kawan-kawan yang mendapatkan kebutuhan hidup dari orangtua masing-masing, silakan menyimak saja dulu.

Pekerjaan yang kita lakukan, usaha yang kita jalani memberi penghasilan dan mendukung kebutuhan hidup kita sekarang. Pertanyaannya: apakah kita melakukannya semata karena penghasilannya atau karena kita memang cukup mampu melakukannya? Kita mampu melakukan pekerjaan itu atau kita mampu menjalani usaha itu. Karena apa yang kita lakukan dan jalani maka muncullah penghasilan.

Bila satu saat, kita merasa tidak lagi mampu melakukan pekerjaan itu, dengan berbagai alasan, atau kita tidak lagi merasa mampu menjalani usaha karena berbagai sebab, maka semua itu akan kita coba tinggalkan dan memilih yang lain. Itu yang menunjukkan bahwa pekerjaan atau usaha yang sekarang ada, didasari oleh niat yang bukan semata penghasilan. Penghasilan hanya sebagai sebab, bukan akibat.

Kita bisa diskusikan lagi lebih detil bila ingin lebih tajam, tapi kita balik dulu ke popularitas sebagai niat untuk menulis. Percayakah Anda bahwa semua pekerja seni, suka tidak suka, cepat atau lambat, akan menjadi pusat perhatian para penikmat seni? Pematung, pelukis, pemusik, actor/actress, penyanyi, penari penulis dan masih banyak lagi, semua adalah pekerja seni. Setiap yang dihasilkan akan ‘dikonsumsi’ para penikmat seni. Tahap berikutnya, para penikmat seni tersebut akan mencoba mengingat-ingat sosok pekerja seni yang menghasilkan karya yang dinikmatinya.

Karya yang menurutnya sangat baik, sangat bisa dinikmati dan ingin terus dia nikmati karya-karya lain dari pekerja seni tersebut. Keinginan untuk menikmati karya lainnya, apresiasi atas karya yang dinikmati memunculkan dalam diri si penikmat seni, kekaguman pada si pekerja seni. Setiap kesempatan yang ada membuat si penikmat seni menceritakan karya tersebut, apresiasi dan kekagumannya. Kekaguman bisa menjalar/contagious kepada orang lain. Saat semakin banyak orang yang mengagumi, saat itulah popularitas menghinggapi si pekerja seni.

Jadi sama seperti uang, popularitas adalah akibat dari apapun yang kita tulis, publikasikan bahkan komersialisasikan. Maka keduanya tidak dapat dikatakan sebagai niat. Lalu apa niat kita untuk menulis?

Mari kita kembali ke definisi niat menurut KBBI. Maksud atau tujuan suatu perbuatan, kehendak (keinginan di hati) akan melakukan sesuatu, janji untuk melakukan sesuatu jika cita-cita atau harapan terkabul (kaul atau nazar), keinginan (harapan) hati yg mantap. 

Tadi kita ada diskusikan tentang penyebarluasan pengetahuan, wawasan dan pemahaman. Beberapa orang memilih jalan aman untuk tidak melakukan sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan penulis lain di masanya. Tidak ingin menyebarkan persepsi atau perspektif berbeda demi mencapai hakikat pemahaman. Benar bahwa akan banyak orang yang mempertanyakan persepsi atau perspektif yang kita sebarluaskan melalui tulisan kita. Tapi justru itulah manfaat baik dari tulisan kita. Para pemberi komentar dan kita akan bersama-sama berdiskusi, melalui banyak media untuk mendapatkan pemahaman terbaik, hakikat dari pengetahuan atau wawasan, seringkali bahkan yang tidak ikut berdiskusi tetapi mengikuti setiap diskusi, akan mendapatkan manfaat yang sama.

Begitu pula bila kita berniat untuk menghibur. Ya, menghibur tanpa konotasi mencela orang lain karena saya masih bingung, bagaimana kita bisa terhibur ketika seseorang dicela. Ada pula buku yang menghibur karena si penulis sekedar memenuhi ego orang lain dengan memuja-puji tanpa dasar. Bukan pula hiburan sekedar membuat orang menjadi lebih terkenal nama dan wajahnya saja, tanpa mengangkat dan menyebarluaskan hasil karyanya. 

Maka sebagai pembaca, waspadalah dengan setiap buku yang kita lihat di toko buku. Lebih waspada lagi saat menginformasikan sebuah buku kepada teman-teman kita. Karena beberapa buku bisa saja memiliki niat yang jauh dari memberi manfaat. 

Dan sebagai penulis, berupayalah untuk terus memperbaiki niat kita ketika menulis. Karena popularitas semata, penghasilan yang tinggi tidak akan membawa ke manapun, hanya kenikmatan semu dan akan segera pupus.

Buku kita bisa bestseller tapi dua tahun setelah itu, setiap yang membeli (dan membacanya, bahkan menyimpan di lemari bukunya) melupakan karya tersebut. Itulah indikasi bahwa buku kita tidak memberi manfaat apapun dan berarti kita masih perlu memperbaiki niat menulis kita. 

Semua hal diawali dari niat.

 

Penulis: Ardian Syam.

Twitter: @ArdianSyam