Sastra Indonesia Didigitalkan!

Image
Sastra Indonesia mempunyai sejarah perjalanan yang panjang, terbagi dalam beberapa periode kesusastraan, aliran-aliran dan jenis-jenisnya. Ribuan karya sastra telah tercipta, mulai periode angkatan Pujangga Lama (sebelum abad ke-20) sampai saat ini, namun tidak semuanya tersimpan dan tercatat dengan baik. 
 
Hans Bague Jassin (H.B. Jassin) Seorang sastrawan, redaktur Balai Pustaka di tahun 1940an telah banyak mengumpulkan karya sastra baik berupa buku, majalah, dan kliping dari berbagai macam surat kabar. Tidak hanya itu, pria yang dijuluki Paus Sastra Indonesia juga membuat ulasan, tulisan, komentar pada karya sastra yang diterimanya, sehingga tiap karya menjadi bukti sejarah perjalanannya. 
 
Hasil karya sastra dan catatan yang dibuat oleh beliau telah didokumentasikan dan tersimpan dengan baik di Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin (PDS H. B. Jassin) yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, menjadi satu-satunya tempat yang menyimpan puluhan ribu karya sastra, yang terdiri dari 16.816 judul buku fiksi, 11.990 judul buku non fiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul buku/ naskah drama, 750 map biografi pengarang, 15.552 kliping, 610 lembar foto pengarang, 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan desertasi, 732 kaset rekaman suara, dan 15 buah kaset rekaman video.
Image
 
“Selama ini, dokumentasi sastra ini terasa seperti harta terpendam. Terbatas sekali peminat sastra yang berkunjung ke PDS H.B. Jassin, demikian juga pelajar dan mahasiswa sangat disarankan untuk menambah wawasan dalam hal sasta, tetapi kesempatan ini hilang karena keterbatasan akses dan waktu. karena itu digitalisai merupakan suatu keharusan.“ jelas Hasan Alwi, ketua Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin. 
 
Satu masalah lain yang muncul dan mengancam bukti otentik sejarah ini adalah waktu yang melapukkan dan merusak dokumentasi sastra yang tercetak, terekam, dan tersimpan, sehingga diperlukan solusi untuk menyimpan semua dokumentasi yang merupakan bagian dari sejarah panjang sastra Indonesia. 
 
Sejarah lain tercipta pada hari Selasa, 03 Desember 2013 pagi ketika Yayasan Dokumentasi Sastra H. B. Jassin yang diwakili oleh Bapak Hasan Alwi, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT. Woolu Aksara Maya, yang diwakali oleh Sulasmo Sudharno selaku CEO Aksaramaya, untuk melakukan digitalisasi dan selanjutnya dipublikasi melalui E-pustaka. Aksaramaya adalah perusahaan yang fokus dalam pengembangan platform sosial media berbasis buku digital  untuk komunitas dan pendidikan yang dikenal dengan nama “Moco”.
Image
“PDS H. B. Jassin adalah mutiara yang terpendam, aset bangsa yang harus diselamatkan, melalui kerjasama ini dokumen sastra bisa dinikmati melalui smartphone, tablet, dan pc yang ada di Moco, kapanpun dan dimanapun dengan mudah.” ujar Panya M. Siregar, Chairman Aksaramaya.
 Image
Pendigitalisasian karya sastra yang tersimpan di PDS H. B. Jassin diharapkan menjadi satu titik awal evolusi pendokumentasian karya sastra yang tercipta dari tangan-tangan anak bangsa, untuk masa depan sastra Indonesia yang lebih baik. 
Image