RaBuku – Rekomendasi Buku : Korupsi

Image

Judulnya “Korupsi”, ditulis tahun 1994.

Wow… Buku yang ditulis hampir dua dasawarsa lalu masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, padahal sang penulis bukan penulis Indonesia. Jadi, korupsi ada dimana-mana? Sepertinya sih ketika itu (1994), banyak negara memiliki masalah yang sama, korupsi.

Kali ini, kita cerita bukan tentang isi bukunya, tapi sejarah penulisan buku ini yang sungguh menarik!

Sang penulis, Tahar Ben Jelloun lahir dan besar di Fez, Maroko lalu pindah ke Paris, Perancis dan pernah meraih Prix Goncourt – hadiah sastra paling terkemuka di Prancis – di tahun 1987.¬†Novel “Korupsi” inipun meraih penghargaan yang sama di tahun 1994.

Di awal tahun 1990-an, Tahar Ben Jelloun mengunjungi Indonesia dengan tujuan bertemu dengan sastrawan Indonesia yang sangat dikaguminya, Pramoedya Ananta Toer. Saat itu, Pramoedya sedang menjalani tahanan rumah akibat aktivitas politiknya yang berseberangan dengan penguasa.

Tahar tak berhasil menemui Pramoedya di Jakarta, tapi justru menemukan novel lama karya Pramoedya yang berjudul Korupsi (1954), yang ditulis beliau di Belanda saat mendapat beasiswa kebudayaan untuk tinggal selama setahun disana. Novel itulah yang mengilhami Tahar menulis novel serupa, tetapi dengan latar belakang Maroko, negeri asalnya yang dalam banyak hal menyimpan banyak persamaan dengan Indonesia — dengan maksud sebagai penghargaan kepada Pramoedya Ananta Toer.

Judul asli dari novel ini adalah L’Homme rompu (arti harfiahnya “Lelaki yang Patah”), dengan permainan kata “rompu” (patah) dan “corrompu” (korup), yang kemudian menjadi karya persembahan (tribute) Tahar untuk Pramoedya. Bahkan, Tahar menyerahkan sebagian royalti dari penjualan novel ini kepada Pramoedya yang kemudian menyampaikan rasa terima kasihnya melalui surat pribadi kepada Tahar.

Dalam novel ini, Tahar menulis bahwa korupsi sekarang (saat itu) sudah sedemikian merebak, baik di negara-negara Utara, maupun Selatan. Jadi, bukan lagi negara mana paling korup tapi tantangannya adalah… siapa yang lebih baik mengatasi korupsi?