Kamis Nulis – Setting

Image

SETTING

Setting biasanya digunakan untuk mengistilahkan pendeskripsian atau detil keadaan suatu tempat. Ini sangat penting bagi sebuah tulisan fiksi, bahkan kadang-kadang narrative journalism juga memanfaatkan setting agar lebih tajam.

Contohnya? Ruangan itu tidak terlalu besar, berbentuk empat persegi panjang, tepat di salah satu ujung tersedia meja panjang dengan tiga buah kursi. Menghadap ke meja panjang tersebut, berjajar tidak terlalu rapi sekitar 20 kursi atau lebih untuk para wartawan. Tiga orang duduk di meja panjang itu. 

Ya, bila contoh tadi adalah tulisan fiksi, maka pembaca tahu bahwa akan terjadi sebuah press conference yang disiapkan di ruangan itu. Bila itu sebuah narrative journalism maka dapat menggambarkan eksklusivitas acara, karena hanya tersedia 20 kursi.

Mengapa harus demikian? Penulis fiksi sering memilih show not tell, yang maksudnya untuk mengatakan bahwa sudah dipersiapkan sebuah press conference, maka dinyatakan dengan setting. Jurnalis yang memilih untuk tidak menyombongkan bahwa dia diundang ke acara yang sangat terbatas dan menghindarkan kata “eksklusif” akan memilih untuk menyatakan dengan setting.

Jadi, dalam tulisan apapun setting sudah sering digunakan, terutama dalam fiksi. Karena akan terasa janggal bila ada sebuah tulisan fiksi tanpa setting. Bayangkan ketika dalam sebuah novel atau cerpen diceritakan seseorang duduk di sebelah orang lain, orang pertama duduk sambil melesakkan punggungnya sementara orang ke dua duduk tegak. 

Tanpa mendeskripsikan seperti apa benda yang diduduki oleh dua orang itu, maka sulit dibayangkan bila orang pertama duduk di sebuah kursi bersandaran tegak tetapi dapat melesakkan punggungnya di kursi, cara duduk yang sama sekali tidak nyaman. Maka setting memberi kita alat bantu untuk memahami apa yang sedang terjadi pada dua orang itu. Itulah yang disebut sebagai show not tell, dalam konsep fiksi. 

Mengapa demikian, karena sangat sulit menunjukkan adegan tertentu bila tidak disertai gambar, sementara tulisan itu tidak dilengkapi ilustrasi gambar atau foto, sehingga perlu mendeskripsikan setting ruangan. Bahwa ada sebuah sofa untuk orang pertama, dan sebuah kursi untuk orang ke dua.

Setting yang sama juga untuk menggambarkan kedekatan dari dua orang tersebut. Untuk memudahkan contoh, mari kita sebut orang pertama sebagai Adi dan orang ke dua sebagai Yuwono. Akan terasa aneh bila dituliskan: Adi dan Yuwono belumlah terlalu akrab, sehingga mereka merasa agak sungkan untuk duduk di sofa yang sama. Padahal sofa yang diduduki Adi cukup lebar, bahkan untuk diduduki lebih dari dua orang.

Ketidak-akraban Adi dan Yuwono tetap saja jadi told bila dari contoh barusan, tetap terasa kurang indah untuk dinikmati. Padahal, sekali lagi, fiksi akan lebih baik untuk show not tell. Sehingga akan lebih ‘terlihat’ oleh pembaca bila dituliskan: Adi duduk dalam posisi nyaman dengan melesakkan punggungnya di sofa merah yang tebal dan berbahan sangat halus, sementara Yuwono duduk di kursi kayu yang berada di seberang sofa itu. Sebuah meja kopi rendah membatasi mereka berdua.

Bagaimana dengan contoh narrative journalism tadi? Bahkan foto pun tidak bisa menggambarkan eksklusivitas yang akan ditunjukkan, terbatasnya wartawan yang hadir (20 orang) dalam ruangan yang memang tidak terlalu luas tidak akan jelas tergambar dari foto. Karena foto tersebut akan terlihat beberapa wartawan yang hadir (tidak semua) dan tidak dengan mudah orang yang melihat foto itu menyadari bahwa ruangan itu sangat terbatas. 

Maka, penulisan bahwa ‘hanya ada 20 wartawan yang diundang’ sudah cukup memunculkan informasi tentang eksklusivitas tanpa harus terlihat menyombong, apalagi bila berita itu tidak disertai dengan foto. Sebenarnya memang jarang sekali berita memuat foto yang menunjukkan jumlah wartawan, lebih sering menunjukkan tokoh-tokoh yang diberitakan.

Kita akan bicara lagi tentang setting di diskusi berikutnya ya… 

 Sumber: Ardian Syam (http://perspactive.blogspot.com) – @ArdianSyam