Kamis Nulis : Kecepatan Bercerita

menulis

Kecepatan Bercerita

Diskusi kita kali ini terkait dengan narrative journalism, fitur dan fiksi. Tapi untuk hal yang terkait judul diskusi ini, bisa saja dibahas bagi tiga jenis tulisan tersebut, bisa juga kita bahas berbeda. Tetapi, untuk tulisan yang manapun, kecepatan bercerita akan diperlukan.Apa sih kecepatan bercerita? Saya mengajak Anda mengingat salah satu tulisan fiksi yang pernah dibaca, terutama novel. Novel seperti Da Vinci Code atau Harry Potter bahkan juga Laskar Pelangi dan Fabulous Udin. Ada bagian yang menegangkan atau bagian yang membuat Anda tertawa tergelak-gelak. Bisakah Anda membayangkan bila bagian menegangkan tadi terjadi dari awal hingga akhir? Atau Anda tertawa tergelak-gelak dari awal hingga akhir?Bahkan buku humor saja disusun dengan jeda, bagian awal akan membuat Anda tersenyum lalu kemudian anekdot-anekdot yang membuat Anda tertawa tergelak-gelak lalu kemudian kembali yang membuat Anda tersenyum. Bahkan terkadang buku humor pun dijeda oleh bagian yang membutuhkan pemikiran, sehingga Anda hanya meringis.

Nah, naik turunnya irama emosi pembaca lah yang di sisi penulis disebut sebagai kecepatan bercerita. Umumnya di saat emosi pembaca menaik, cerita akan dibaca dengan cepat, sangat cepat bahkan. Sehingga terkadang ada bagian yang luput dari perhatian pembaca. Penulis tahu persis kapan dia harus menurunkan emosi pembaca saat membaca kisahnya.

Maka, kecepatan bercerita si penulis, menggerakkan kecepatan membaca si pembaca. Akan ada pula bagian yang dilompati begitu saja oleh pembaca, karena terlalu berlama-lama tentang suatu hal. Mengapa demikian? Karena setiap orang memiliki harapan tertentu setiap kali membaca sesuatu. Pembaca bersedia bila emosinya diturunkan sedikit, tetapi kalau terlalu lama, akan menjadi bosan.

Setiap bagian tulisan yang tidak terlalu diharapkan kemungkinan akan dilewatkan begitu saja oleh pembaca. Bila penulis tidak segera meningkatkan kecepatan bercerita, sehingga pembaca harus membalik berhalaman-halaman buku sebelum menemukan bagian yang dia sukai maka buku akan membosankan dan berhenti membaca.

Baiklah, kita sudah ungkap sedikit tentang kecepatan bercerita, dan bisa saja kita diskusikan lagi lebih detail di lain waktu. Hal yang penting untuk kita diskusikan adalah bagaimana menaikkan atau menurunkan kecepatan bercerita.

Hal pertama yang mempengaruhi kecepatan bercerita, atau biasa disebut pacing adalah panjang kalimat. Kalimat-kalimat pendek dengan kata-kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari cenderung mempercepat cerita.

Contoh: dia menatap tajam, ujung-ujung bibirnya melengkung ke bawah. Tangannya mengepal, hingga telapaknya terlihat pucat. Napasnya pendek-pendek dan suaranya terdengar sangat serak ketika mengeluarkan kata

Sementara kalimat-kalimat yang panjang, dengan kata-kata yang tertata rapi, bahkan menggunakan kata-kata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari akan memperlambat cerita.

Contoh: lembayung menghiasi langit sore yang terlihat dari bening kaca jendela di kamarnya, hatinya sangat rusuh karena senyampang ia meninggal dunia tidak ada orang yang dapat mengurus hartanya. Setakat ini tidak seorangpun keluarga ataupun kerabat terdekatnya yang terlihat memiliki kemampuan.

Coba rasakan emosi yang terbawa oleh kalimat dari contoh-contoh tadi. Maka ketika emosi pembaca terbawa lekat dengan cerita, maka kecepatan bercerita menjadi meningkat. Tetapi saat pembaca masih harus memahami kata-kata yang diungkapkan, maka terjadi penurunan kecepatan.

Apakah kecepatan cerita hanya ditunjukkan oleh narasi saja?

Justru tidak. Kecepatan bercerita juga bisa ditingkatkan lagi oleh dialog. Coba bayangkan ketika menonton sebuah film, saat ada adegan, kita merasa bisa agak menjauh dengan cerita karena hanya indera penglihatan saja yang kita fungsikan. Tetapi ketika tokoh-tokoh dalam cerita mulai bicara, kita menjadi lebih lekat, karena kita perlu mendengarkan apa yang dia katakan, sekaligus melihat gesturnya. Semakin dekat seorang pembaca kepada cerita, maka semakin lekat emosinya. Semakin lekat emosinya, semakin cepat cerita yang dia nikmati.

Hal terpenting adalah mengatur kecepatan naik dan turun. Pernahkah kita merasa emosi kita terus menaik dari awal hingga akhir cerita (novel maupun film)? Ya, penurunan kecepatan di beberapa bagian memberi jeda bagi pembaca untuk beristirahat, dan untuk membuatnya bersiap bagi kejutan berikutnya. Karena itulah dia akan terus membaca karya yang kita tulis.

Penulis: Ardian Syam (@ArdianSyam)
Sumber: http://perspactive.blogspot.com