KamisNulis: Membaca, lalu Menulis.

Image

Sebuah pembicaraan yang unik ketika seorang Profesor sastra sekaliber Sapardi Djoko Damono bersanding satu panggung dengan seorang yang sangat dalam memperhatikan segala hal dalam kehidupan Gol A Gong. Kita kenal Gong sebagai penulis Balada si Roy dan banyak novel lainnya, tetapi kita jarang mendengar Gong menerbitkan buku puisi. Kita kenal Sapardi Djoko Damono adalah tokoh yang mampu menciptakan puisi-puisi indah apalagi ketika dia mengatakan “…aku ingin mencintaimu dengan sederhana…”

Tapi kali ini, mereka bertukar peran. Gong membuat buku puisi dan Sapardi menulis novel. Tapi biarkan panitia Pesta Literasi yang menceritakan tentang hal itu, karena beliau berdua sama-sama meluncurkan buku terbaru masing-masing dalam acara Pesta Literasi Jakarta yang diadakan tanggal 3 November 2013, mulai jam 10.00 pagi hingga selesai. 

Ada beberapa hal unik yang ingin disampaikan dalam tulisan ini, bahwa ini kali pertama Gong menyatakan ketika merayu seorang perempuan bernama Tias, beliau menyanyikan puisi “Aku Ingin” karya Sapardi dan sekarang bersamanya tidak hanya membangun keluarga, tetapi juga membesarkan Rumah Dunia. 

Sapardi dengan santai sebagaimana layaknya bercerita menyampaikan kisah yang ditulis dalam novel terbarunya, dan uniknya sebagai seorang sastrawan yang mengalami masa-masa kejayaan saat buku-buku dipublikasikan dan dikomersialisasikan dalam format kertas beliau berkata “… saya heran dengan orang-orang jaman sekarang yang menulis banyak hal dalam batas 140 karakter, di media-media internet (mudah-mudahan saya tidak salah tebak bahwa yang beliau maksud adalah blog dan notes di facebook) tapi kemudian mengumpulkannya dan menerbitkannya menjadi buku…”

Nah, lalu apa salahnya dengan mengumpulkan tulisan tersebut ya? Lalu beliau berkata, mengapa tidak mengumpulkannya dan menerbitkannya melalui internet dengan ebook. Wow, buat saya itu suatu yang luar biasa. Tetapi beliau menolak untuk disebut luar biasa dengan komentarnya itu, karena menurut beliau “…mengapa meributkan media tempat kita membaca, kertas maupun tidak, bacaannya toh sama saja…” (Saya juga sering bingung dengan orang yang masih meributkan kertas maupun tidak, Pak.)

Hal berikutnya yang akan saya ungkap dari dua penulis luar biasa ini adalah bahwa beliau berdua menganggap apakah menulis itu direncanakan atau spontan atau dari hati, kesimpulannya sama: Input.

Bagi Sapardi, semua yang kita lihat, alami, dengar dan baca akan tersimpan di dalam otak dan itu semua adalah modal untuk menulis. Semua yang ditulis haruslah berasal dari sana, tidak ada ilham yang datang mendadak, tidak ada ide liar tanpa ada hal yang masuk ke dalam otak. Gong, menceritakan bahwa dia pernah ditanya, mengapa setelah membaca banyak buku tentang menulis, tetap saja penanya tidak bisa menulis. Lalu Gong bertanya, apakah buku yang dibaca si penanya sudah lebih dari 50 judul. Ternyata belum, sehingga kesimpulannya adalah: Input.

Bagaimana bisa menuliskan sesuatu bila seseorang tidak banyak membaca? Itu menurut Gong dan Sapardi, lalu mereka bersepakat bahwa setiap penulis pasti sudah pernah membaca lebih dari 100 judul buku, sehingga sekali lagi: Input. Bahkan Gong menyitir peribahasa China: “Menulis adalah membaca dua kali”. Ketika seorang menulis, sebenarnya itu muncul dari buku-buku yang dia baca, dan kemudian membaca apa yang baru dia tulis.

Maka, dari dua maestro penulisan ini, saya cenderung mendapat 2 hal utama: bacalah semua yang bisa dibaca maupun ‘dibaca’ dan jangan mempersoalkan media bacanya, karena yang terpenting adalah bacaannya. Toh, kita tidak mau dibilang berpola pikir lebih kuno daripada Prof. Sapardi Djoko Damono yang berusia lebih dari 70 tahun kan?

Dulu orang mengatakan “You are what you read” dan sekarang tambahannya “you are how you read”. Semoga Anda semua tetap muda seperti Prof. Sapardi.

Penulis: Ardian Syam (@ArdianSyam)
Sumber (seizin penulis): perspactive.blogspot.com