RaBuku- Rekomendasi Buku: 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Buku apa yang sedang ramai dibicarakan semua orang?

Image

Mungkin jawabannya adalah buku yang berjudul “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” yang disusun oleh Tim 8 (Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshauser, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis Aisyah), diterbitkan oleh penerbit Kompas Gramedia untuk Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin (PDS H. B. Jassin) pada hari Jumat, 03 Januari di PDS H. B. Jassin di kompleks Taman Ismail Marzuki. 

Image

Buku ini berisi 33 nama sastrawan Indonesia sejak tahun 1900 yang memenuhi empat kriteria indikator sehingga dianggap paling berpengaruh. Empat kriteria itu, pertama pengaruhnya tidak hanya berskala lokal, melainkan nasional, kedua pengaruhnya relatif berkesinambungan, dalam arti tidak menjadi kehebohan temporal atau sezaman belaka, ketiga dia menempati posisi kunci, penting dan  menentukan, keempat dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang. 

Berikut 33 nama yang akhirnya dimasukkan oleh Tim 8 ke dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh:

1. Kwee Tek Hoay 
2. Marah Roesli 
3. Muhammad Yamin 
4. HAMKA 
5. Armijn Pane 
6. Sutan Takdir Alisjahbana
7. Achdiat Karta Mihardja 
8. Amir Hamzah 
9. Trisno Sumardjo 
10. H.B. Jassin 
11. Idrus 
12. Mochtar Lubis 
13. Chairil Anwar 
14. Pramoedya Ananta Toer 
15. Iwan Simatupang 
16. Ajip Rosidi 
17. Taufik Ismail 
18. Rendra 
19. NH. Dini 
20. Sapardi Djoko Damono 
21. Arief Budiman 
22. Arifin C. Noor 
23. Sutardji Calzoum Bachri 
24. Goenawan Mohammad 
25. Putu wijaya
26. Remy Sylado 
27. Abdul Hadi W.M.
28. Emha Ainun Nadjib
29. Afrizal Malna 
30. Denny JA
31. Wowok Hesti Prabowo
32. Ayu Utami
33. Helvi Tiana Rosa

 

Nah, kenal dengan nama-nama di atas? Beberapa, pasti. Sebagian lagi, belum tentu. Bahkan tak banyak yang membaca pasti mengernyitkan dahi. 

Beberapa nama bahkan menjadi kontroversi, seperti Denny JA. Inilah yang kemudian ramai diperdebatkan di dunia maya. Kontribusi seorang Denny JA terhadap dunia sastra dianggap belum terlalu besar untuk disandingkan dengan nama seperti Sutan Takdir Alisjahbana atau Pramoedya Ananta Toer. Seperti kita ketahui, Denny JA menerbitkan sebuah buku yang ia beri label “puisi esai” di tahn 2012. Tim Juri menjelaskan Denny JA terpilih karena ia melahirkan genre baru dalam puisi Indonesia yang disebut genre puisi esai. Jenis puisi ini kini menjadi salah satu trend sastra muthakir yang sudah direkam dalam kurang lebih sepuluh buku.

Banyak yang mempertanyakan masuknya nama Denny JA, salah satunya muncul di blog http://boemipoetra.wordpress.com yang ditulis oleh Katrin Bandel. Beberapa poin yang ditulisnya adalah:

Kasus paling ekstrim adalah Denny JA yang menciptakan pengaruhnya sendiri lewat marketing cerdas dan sayembara yang diadakan atas inisiatif sendiri, dan, yang paling penting, dengan pendanaan yang sangat luar biasa. Apakah ”pengaruh” semacam itu masih ada hubungannya dengan mutu karya?

Apa tujuan penerbitan buku dengan judul ”33 Tokoh Sastra Indonesia yang Paling Berpengaruh”? Saya menjadi curiga, jangan-jangan tidak ada niat serius untuk mempersoalkan permasalahan ”pengaruh” dalam buku tersebut. Studi yang serius mengenai pengaruh mesti berangkat dari usaha melacak intertekstualitas, dan tidak berkaitan secara langsung dengan penilaian mutu karya atau mutu pengarang. Seandainya itu tujuan buku tersebut, tentu perayaan 33 nama besar tidak akan dibutuhkan. Jadi apa makna kata ”berpengaruh” dalam judul tersebut? Jangan-jangan Tim 8 yang menjadi penyusun buku ini sendiri sebenarnya tak mengerti apa yang mereka maksud dengan “pengaruh” dalam judul sensasional buku mereka itu!

Di facebook, kritik juga gak kalah santer. Salah satunya dapat dibaca di https://www.facebook.com/notes/puthut-ea/surat-untuk-pak-denny-ja/10151944680338167. Berikut penggalan tulisannya:

Maaf lho Pak, kalau saya langsung nembak bahwa buku tersebut terbit karena Anda sponsori. Seperti saya bilang di awal bahwa saya tidak pintar basa-basi. Dan menyeponsori hal seperti itu biasa kok. Termasuk titip nama supaya masuk. Lebih tepatnya buku tersebut dan sejumlah nama yang lain di dalam buku tersebut hanya sebagai pelengkap saja. Intinya ada di Anda. Dan sekali lagi saya konsisten, Anda tidak bersalah dalam konteks kekinian yang segala hal bisa diperdagangkan dan ditukar dengan uang. Kalaupun toh misalnya masih perlu untuk disalah-salahkan tentu yang paling salah ya para sastrawan yang ikut mendongkrak Anda. Pertama, kok tega mereka memperlakukan hal seperti itu di dalam dunia sastra. Dunia yang kaya imajinasi tapi masih agak miskin dalam apresiasi dan dukungan. Kesalahan kedua, kok mereka gak meminta banyak sekali uang agar bisa dibagi-bagikan ke pelaku sastra lain. Kalau hal tersebut dilakukan sebanyak mungkin, maka yang menghujat buku tersebut hanya jadi minoritas. Tidak seperti sekarang ini, yang mengritik dan menghujat jauh lebih banyak. Salah satu sebabnya tentu saja banyak yang tidak kecipratan mothik Anda. Setidaknya kalau ada slep-slepan kan tidak perlu ikut bicara. Diam. Tapi Pak Denny, sekali lagi saya tidak suka bicara benar atau salah. Biarlah soal seperti itu diurus para ahlinya.

Denny JA bukannya tinggal diam dalam menanggapi polemik ini, dengan akun twitternya (@DennyJA_World) Ia merespon perdebatan tentang dirinya dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh: