Rencana Besar

Image

”Bisnis kami adalah soal reputasi. Tanpa reputasi, kami mati. Kami tahu persis berapa harga suatu pekerjaan.” –Hal. 15
 
Makarim Ghanim bukanlah seorang detektif, ia lebih dikenal dengan kemampuannya dalam membenahi atau membuat suatu sistem baik dalam sebuah perusahaan atau pihak manapun yang membutuhkan bantuannya. Kali ini Makarim dihubungi seorang sahabat lamanya, Agung, yang merupakan Wakil Direktur Utama Universal Bank Of Indonesia atau yang sering disingkat sebagai UBI. Agung menemukan kejanggalan dalam pembukuan Bank tersebut, ada selisih 17 milyar yang hilang jika dibandingkan dengan laporan akhir tahun sebelumnya. Karena itu ia meminta Makarim menyelidiki hal ini, kapasitasnya sebagai orang netral dan juga kemampuannya menganalisis dengan tajam dan teliti lah yang mengantarkan Agung merekrut teman kuliahnya dulu itu.
 
Tiga orang tersangka telah diajukan oleh Agung, dengan keterangan bahwa mereka inilah yang memiliki akses dan motif yang cukup berbahaya sehingga mampu melenyapkan uang sebesar 17 milyar. Tiga orang itu adalah Amanda Suseno, Reza Ramaditya dan Rifad Akbar. Anehnya, ketiga orang ini adalah pegawai-pegawai yang teladan di kantornya, bagaimana bisa mereka malah memiliki motivasi untuk mengambil dana milyaran rupiah?
 
Penyelidikan dimulai, Makarim yang sedang memiliki masalah rumah tangga, ijin kepada anak buahnya dengan alasan untuk pergi berlibur selama sebulan. Diam-diam ia ke Surabaya, satu demi satu berkenalan dan mengorek informasi dari masing-masing tersangka.
 

 

Amanda adalah seorang wanita yang enerjik dan ambisius, marketing yang merupakan bidangnya mengharuskan gadis itu untuk tampil dengan mengesankan secara luar maupun dalam. Ia pandai merayu dan bersikap manis kepada para nasabah UBI ataupun calon nasabahnya. Meski ia masih muda dan memiliki jenjang karir yang menjanjikan, gadis ini mungkin memiliki motif psikologis untuk melakukan pencurian uang tersebut.
 
Rifad bukan hanya aktif dan teladan di kantor UBI, ia juga merupakan ketua Serikat Pekerja UBI seluruh Indonesia. Tak hanya lewat ucapan, Rifad juga membuktikan bahwa ia layak menduduki jabatan penting tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Rifad berhasil menyusun kekuatan yang besar di bawah naungan serikat pekerja UBI. Secara motif, jelas lelaki ini memilikinya, ia mungkin saja menggelapkan dana untuk mengembangkan kelompok yang dikenal dengan sebutan ’Patriot’ tersebut.
 
Reza satu-satunya tersangka yang jelas terlihat bermasalah. Meski baru bergabung di UBI, ia sudah mengalami demotivasi dalam pekerjaannya. Padahal lelaki ini dulunya pernah memiliki kemampuan analisa yang baik, ia juga memiliki cara pandang yang luas, terlihat dari obrolan singkatnya dengan Makarim. Motif demotivasi sudah sering ditemui dalam kasus penggelapan uang perusahaan, mungkin saja kali ini kasusnya juga sama.
 
Usut punya usut,  Makarim sampai kepada sebuah kesimpulan. Seorang tersangka. Ah, ternyata begitu mudah kasus ini diselesaikan. Laporan disiapkan. Makarim bersiap kembali ke Jakarta.
 
Lalu sebuah informasi tak terduga sampai ke telinganya. Informasi yang membuat Makarim membatalkan kepulangannya dan kembali menyusun satu demi satu rangkaian puzzle ’uang hilang’ tersebut. Sebuah nama baru muncul, nama yang kelak akan membantu Makarim menemukan apa rencana di balik kasus ini. Siapa pelaku penggelapan uang itu, dan mengapa tiga orang itu yang menjadi tersangka.
 
“Bapak mungkin sudah diintai karena tahu terlalu banyak. Bapak berhati-hatilah. “-Hal. 148
 
Sebuah rencana besar yang berbahaya, seorang terancam nyawanya, seorang lagi meregang nyawa. Bagaimana kasus ini akan terselesaikan?
 
Di tengah keringnya novel thriller dalam negeri, ’rencana Besar’ merupakan air yang memuaskan dahaga saya. Diolah dengan alur yang runut, pembaca dibuat penasaran bagaimana kisah ini akan diakhiri. Berbagai konspirasi dan ketegangan muncul di benak saya, seperti mencoba membantu Makarim menerjemahkan apa-apa saja yang sudah ia dapatkan menjadi satu kesimpulan. Rencana besar seperti apa yang dijadikan judul buku ini?
 
Tentu saya akan merekomendasikan buku ini kepada Anda yang menggemari teka-teki, konspirasi, kasus-kasus perbankan, atau tentang manajemen SDM. Semakin banyak halaman yang saya baca, semakin saya terpacu untuk menghabiskannya.
 
Tokoh yang saya suka, Makarim. Lelaki tua ini tidak hanya teliti dan sabar, ia tidak gegabah dalam mencari sebuah kesimpulan dan berusaha obyektif. Ia pandai mengaburkan fakta yang tak perlu dijelaskan untuk mendapat sebuah fakta baru, ini yang membuatnya mudah mengorek informasi-informasi yang dibutuhkan. Sebagai citra lain Makarim, dari sisi keluarga, Makarim sangat menyayangi anaknya, meski lebih memilih tinggal bersama ibunya semenjak Makarim bercerai.
 
Meski saya tidak paham perbankan, yang kemudian membuat saya menelan mentah-mentah apa-apa saja penjelasan tentang jabatan dan akses yang dimiliki masing-masing tersangka, tapi jika dibaca pelan-pelan, saya rasa sebenarnya bisa dipahami oleh pembacanya. Sayang, saya membacanya tergesa-gesa, bahkan tengah malam saya jabani untuk menghabiskan bab demi bab saking penasaran. Lalu alurnya yang agak lambat di tengah cerita, dan terbacanya ‘Rencana besar’ di pertengahan cerita, tapi saya tetap saja ingin tahu bagaimana kisah ini diakhiri.Ah, lalu ada kejanggalan juga dalam hal Makarim menemukan tokoh utama lain dalam kisah ini, kalau sudah meninggal, mengapa ia masih memiliki rekening?
 
Moral cerita dalam novel ini?
Well, pemimpin tidak sama dengan pimpinan.
Dan jika merencanakan suatu hal yang besar, pikirkan dan susunlah dengan matang, sampai hal terkecil apapun dan kemungkinan skenario terburuk yang bagaimanapun.
 
Empat bintang.
 
Permulaan yang baik, Saya tunggu karya selanjutnya. 🙂
 
Judul Buku : Rencana Besar
Penulis : Tsugaeda (@tsugaeda)
Penyunting : Pratiwi Utami
Penerbit : Bentang Pustaka (@bentangpustaka)
Tebal : 378 halaman, paperback
Cetakan Pertama : Agustus 2013
ISBN : 978-602-7888-65-4
Penulis Review: @alvina13
Sumber: http://orybooks.blogspot.com/2013/09/rencana-besar.html