Kamis Nulis: Plot

menulis

Plot: Kisah yang Emosional

Tulisan ini adaptasi dari tulisan Andy Ward dan June Drexler, silakan cek di sini 

Kita selalu menganggap bahwa sebuah novel roman mempunyai rumus cowok yang bertemu cewek, si cewek tidak suka dengan si cowok, lalu kemudian si cowok merayu dan membuat si cewek tertarik (atau sebaliknya) dan happily ever after. Tidak semudah itu juga rumus untuk membuat sebuah novel roman yang menarik.

Sebuah novel roman, tidak bisa menolak untuk memasukkan elemen-elemen emosi di dalamnya. Emosi para tokoh dalam novel, akan membawa emosi para pembaca. Dua penulis tadi mencoba merumuskan bahwa dalam novel roman harus ada: konflik, keterlibatan, titik krisis dan klimaks.

Konflik jelas perlu pada setiap novel, karena itulah titik awal mulainya semua ketertarikan pembaca terhadap suatu cerita. Tanpa sebuah konflik, tidak ada pembaca yang akan mengikuti cerita. Pertanyaan paling umum adalah “mengapa salah mencintai seseorang (salah satu tokoh)?” Bila pertanyaan itu bisa dijawab dengan mudah, maka cerita akan menjadi kurang kuat. Sehingga perlu diciptakan sebab yang lebih buruk yang membuat pertanyaan itu muncul, dan setiap tokoh akan berkonflik untuk menemukan jawaban tersebut.

Tetapi mengapa harus ada keterlibatan? Nah, di situlah mulainya emosional pembaca diaduk-aduk. Penulis mesti melibatkan diri dalam salah satu atau lebih tokoh dalam ceritanya. Ketika penulis terlibat secara emosional dengan orang-orang lain dalam novel, membuat cerita menjadi menarik. Penulis memang perlu ‘masuk’ ke dalam tokoh-tokohnya.

Kembali ke pertanyaan tadi: “mengapa salah mencintai seseorang (salah satu tokoh)?” Jawaban dari para tokoh lain terhadap pertanyaan tersebut sangat bermanfaat untuk mengikat emosi pembaca pada kisah roman yang sedang dipegangnya. Bisa dikatakan, semakin banyak variasi di benak pembaca, semakin menarik kisah roman tersebut.
Titik krisis digunakan untuk meningkatkan ketegangan dalam cerita semakin tinggi lagi, karena di bagian ini, tokoh-tokoh utama dihadapkan pada jalan yang seolah buntu, sehingga tidak dapat menggunakan cara-cara yang selama ini dilakukan. Para tokoh utama perlu menggunakan cara lain, karena bila pergerakan cerita melalui peristiwa yang senada, akan membosankan.

Bahkan di bagian ini, bisa saja diciptakan perubahan dalam hubungan antar tokoh, sambil cerita bergerak maju menuju klimaksnya. Konflik semakin berkembang, dan para tokoh menyelesaikan masalah terutama yang berkaitan dengan emosi secara bertahap, sehingga pembaca tetap merasa terikat pada cerita hingga akhir. Untuk menghindari kebosanan pembaca, tidak perlu satu adegan tunggal menyelesaikan masalah dalam hubungan para tokoh.

Sebuah cerita roman perlu memiliki lebih dari satu plot yang masing-masing bisa berkembang sendiri dengan pertemuan di akhir cerita. Sehingga bisa saja sebuah cerita roman memiliki dua adegan klimaks, satu untuk setiap plot. Hal yang paling penting, letakkan klimaks dari hubungan emosional antar tokoh di bagian akhir. Karena pembaca roman selalu berharap ending yang menyenangkan.

Tidak perlu dengan adegan upacara pernikahan, untuk menunjukkan hubungan asmara para tokoh akan bersama-sama sampai akhir dan happily ever after, cukup dengan adegan bahwa mereka telah menyelesaikan konflik dan mendapatkan kedekatan personal satu sama lain. Pembaca akan menyelesaikan sendiri adegan itu dalam kepala masing-masing.

Maka, setelah semua bagian dari cerita roman diketahui penulis, maka akan sampai pada kenyataaan setiap cerita memiliki plot yang pada dasarnya sama. Pada cerita roman, semua hal yang berdasarkan karakter masing-masing tokoh menjadi lebih kuat, karena aspek emosional para tokohlah yang dijadikan landasan cerita.

Setting, adegan, waktu perlu dibuat lebih sederhana. Sejauh tidak mendukung pergolakan emosional para tokoh, tiga hal tersebut tidak perlu dibuat berpanjang-panjang dan detail. Maka, ‘masuk’lah ke dalam karakter.

Ya, karakter lah yang menjadi kekuatan sebuah cerita roman. Seringkali, karakter masing-masing tokoh akan terkait erat dengan profesi tokoh cerita. Atau bila dilihat dari sisi lain, profesi tokoh cerita seringkali digunakan penulis untuk show karakternya, not tell.

Mengapa begitu? Karena setiap profesi memiliki kemiripan dalam karakter, jarang sekali kita menemukan dokter yang berpakaian sembrono dan berpikirnya melompat-lompat secara random. Sama halnya jarang sekali kita bertemu dengan seniman yang berpakaian rapi dan melihat sesuatu hanya dari sisi fungsi bukan estetika dan perasaan.

Nah, sekarang mulai terbayang kan? Kisahnya menjadi emosional ketika dua karakter yang berlawanan kemudian bertemu dan saling tertarik. Tentu saja akan ada saat-saat ketika mereka saling membenci, karena perbedaan karakter itu. Akan tetapi, saat mereka melalui masa-masa berat tadi dan kemudian bersepakat untuk saling memahami, kisah roman menjadi menarik pembaca. Nanti kita lanjutkan diskusi ya, silakan bila ingin komentar. Di topik berikut kita akan diskusi tentang karakter, yuk…
Desember 2013

Penulis: Ardian Syam (@ArdianSyam).
Sumber: http://perspactive.blogspot.com