Enigma

Image
Hasha, Patta, Chang, Goza, Isara dan Kurani. Empat nama pertama yang saya sebutkan adalah laki-laki, dan dua terakhir adalah perempuan.
 
Yogyakarta adalah kota di mana mereka semua bertemu, sebelum Kurani memutuskan pindah ke Jakarta setahun kemudian, menyisakan lima orang yang kemudian berteman sangat akrab.
 
Cerita ini dimulai ketika Isara menerima surrat undangan pernikahan Kurani dengan Hasha. Isara yang saat itu telah berpisah dengan suaminya, Patta, setelah mengabarkan undangan tersebut, kemudian memutuskan pergi ke Yogyakarta. Mengenang masa lalu dan mungkin menghadiri pesta pernikahan sahabatnya.
 
Patta yang merupakan salah satu orang kepercayaan pejabat, diam-diam masih mencintai Isara. Setengah mati ia mencoba melupakan Isara, tetapi tak pernah berhasil, meski ia tahu bahwa hanya satu lelaki yang berhasil menguasai hati Isara, yaitu Hasha.
 
Hasha adalah seorang penulis, ia sering menulis artikel di koran, meski nyawanya pernah hampir hilang karena satu berita yang ia kerjakan bersama rekannya, Tapi Hasha tahu, ia tidak bisa berhenti menulis. Pun jika kemudian diterbitkan dengan nama lain, agar kehidupannya tidak terancam. Ia kini fokus ke masa depan, mencintai Kurani dan menikahinya, pun jika Kurani kadang terlihat ragu dengan keputusan mereka.
 
Chang adalah sahabat Hasha, lelaki ini memiliki misteri yang diam-diam ia sembunyikan dari sahabat-sahabatnya ketika mereka bertemu kembali. Lalu Goza, lelaki ini adalah yang paling berandal dari semua tokoh utama dalam cerita ini, ia pembunuh bayaran. Setahun ini ia berniat berhenti dari ’orang langganan’nya yang lama, tapi suatu hari ia mendapatkan pesan kembali dari orang tersbeut, ia harus ke Yogya. Targetnya yang berikut ada di kota pelajar itu.
 
Lalu apa yang menyatukan mereka?
Entah bagaimana, takdir menjadikan kisah hidup mereka saling bertautan satu sama lain. Diam-diam semuanya berhubungan, kebetulan-kebetulan kecil, bayang-bayang yang singgah di alam bawah sadar seorang di antara mereka, atau terkadang hanya keinginan kuat dalam hati, membuat mereka semua setelah bertahun-tahun berlalu, kembali lagi ke kota Yogyakarta. Bukan untuk mengenang masa lalu, tetapi meneruskan jalan takdir. Bagaimana akhir cerita masing-masing kemudian? Apa yang sebenarnya menautkan mereka?
 

 

Ini adalah buku kelima karya Mas Yudhi yang telah saya baca. Saya masih ingat, buku pertamanya yang saya baca adalah Untung Surapati, saat itu rencananya untuk baca bareng BBI. Dari buku itu saya mulai mengenali ciri khas Mas Yudhi, tulisan-tulisannya cukup kaya akan detil. Di buku ini pun ada detil-detil yang saya temukan, kebanyakan pada latar cerita. Entah tempat makan lotek, suasana rumah kosong, atau sekadar pohon-pohon pinus yang tinggi. Kekayaan inilah yang jika tidak dikisahkan dnegan baik, mungkin membuat pembacanya bosan. Tapi Mas Yudhi mampu membuat detilnya dengan baik, sehingga saya merasa ikut berada dalam cerita tersebut. Contohnya pada adegan berada di rumah kosong lalu merasakan hembusan angin, saking menjiwainya sampai ikutan merinding. ._.
 
Lima tokoh utama dalam sebuah cerita pastilah bukan perkara mudah untuk dikarakterisasikan. Apalagi terkadang pembaca menuntut agar masing-masing tokoh memiliki keistimewaannya sendiri, yang makin sulit dibuat. Menurut saya ini salah satu kelemahan dalam novel Enigma, ada beberapa karakter yang kurang kuat dalam penokohannya, seperti pada diri Patta dan Hasha. Keduanya sama-sama ’lemah’, sama-sama dimanfaatkan, sama-sama kurang tegas, sama-sama ’galauers’ *oke abaikan komen terakhir saya. Tokoh yang paling membuat saya terkesan? well, tentu saja si Goza. Jarang-jarang ada tokoh antagonis gini di buku mas Yudhi :))
 
Yang kurang asyik lagi adalah…typonya masih bertebaran  >_<, ini di antaranya
Komplekss (seharusnya kompleks) : hal. 5
Teamlo (ini makanaan, harusnya timlo) : 41
Menyambur (menyampur) : 74
Mencat (bakunya mengecat kan, bukan mencat) : 92
 
Selebihnya, saya cukup menikmati novel ini dari segi alur dan misteri yang ada di dalam cerita. Covernya yang unik dan misterius ternyata berhubungan dengan isi kisahnya, lalu dari segi bahasa, juga amat khas Mas Yudhi, memikat dan elegan *aih bahasakuuh X)
 
SKutunggu karya-karya selanjutnya, dan untuk buku ini, kalau di cetak ulang, typonyaa ngga ada lagi. 😀
 
Judul Buku : Enigma
Penulis : Yudhi Herwibowo
Editor : Anin Patrajuangga
Penerbit : Grasindo
Tebal : 224 halaman, paperback
ISBN : 978-602-251-192-2
Reviewer: @alvina13
Twitter: Penulis – @yudhi_herwibowo  Editor – @aninptrajuangga  Penerbit – @grasindo_id   Reviewer – @alvina13