Genre Lain

Image

Para penerbit sering menerbitkan genre yang sama dari bulan ke bulan. Judul beda, penulis beda, genre tetap sama. Apakah pembaca mereka tidak bosan dengan genre yang sama setiap bulan? Sepertinya tidak, karena terus saja laku.
Akan tetapi, apakah itu akan selalu demikian? Genre yang sama akan terus laku? Memiliki pembaca setia, ya. Laku, nanti dulu. Ambil contoh seri romance terkenal. Harlequin. Memiliki pembaca setia. Tapi telah sampai titik jenuh dan tak bertambah. Padahal penulis tambah banyak. Lalu karena penulis harus ikuti pola alur cerita tertentu, kreativitas para penulis tak lagi terasa.
Pola bisnis itu, hanya benar bagi penerbit. Tidak berlaku, bagi penulis. Bahkan di seri itu ada penulis yang tak laris karyanya. Mengapa? Ya, dalam usaha apapun konsep me-too berlaku. Saat satu produk laku, yang lain akan mengikuti. Me-too akan menciptakan komoditas, memiliki titik jenuh. Saat semua orang sudah mencoba, maka beberapa akan berhenti membaca karya sejenis. Ada pelanggan, tapi tak kan bertambah.
Penerbit, tetap akan menikmati pendapatan dari penjualan genre yang sama, tapi dari penulis yang sudah dikenal oleh pelanggan. Penulis baru muncul, menulis karya dalam genre yang sama, mungkin tidak lagi dilirik oleh pelanggan setia. Itu yang menyebabkan buku tetap tak laku di pasar, walau sudah dengan genre yang laris. Coba lihat novel-novel yang “seperti Ayat Cinta”. Maksudnya meniru alur cerita, setting yang sama.

Lalu bisakah para penulis membanggakan dirinya kreatif? Padahal dia terjebak dalam “genre laku” tanpa berani menulis dalam genre lain. Penerbit memang berbisnis. Pabrik bacaan. Semua pabrik mencari untung. Tapi penulis adalah kreator yang mandiri. Lalu bagaimana orang yang mengaku kreatif dan mandiri, bersedia tunduk pada pihak yang hanya ingin mencari keuntungan?
Beranikan diri menulis dalam genre lain dan selalu ada cara agar tulisan kita diterbitkan. Mau tahu tipsnya?

Tetapkan karya dengan genre seperti apa yang ingin kita tulis. Atau cari contohnya di toko-toko buku. Setelah itu, catat semua alamat / email addariess semua penerbit yang bukunya kita temukan di toko-toko buku.
Baca blurb yang ada di cover belakang buku-buku yang ada. Tandai penerbit yang menerbitkan buku dengan genre yang mirip dengan karyamu. Masuk ke internet, browsing kata: penerbit, publishing, terbit, buku. Cari email addariess semua penerbit yang ada.
Sekarang kita punya email addariess para penerbit, terutama yang terbitkan buku dengan genre seperti karya kita. Kirimkan karyamu kepada semua penerbit tadi. Maka buku kita dengan genre lain tersebut telah mendapat peluang untuk dibaca. Bagaimana bila yang ingin ditulis benar-benar genre lain yang belum pernah diterbitkan oleh penerbit manapun di Indonesia?
Nantikan tips berikutnya, ya….

 
Penulis: Ardian Syam
Sumber: perspactive.blogspot.com