Kamis Nulis: Jinakkan Ide

 menulis2

Khrisna Pabichara menulis di Kompasiana berjudul: Dari Mana Datangnya Ide, bisa dicek di http://goo.gl/2RdxJ
Ide itu binatang liar, cari dan jinakkan. Lalu beliau juga menyatakan bahwa prosesnya adalah menangkap, menjinakkan dan mengandangkan. Bagaimana beliau menyatakan ide itu seperti maling, datang tak diundang, pergi tak pamitan.Nah, Kbrisna Pabichara mengungkap bagaimana teman-teman beliau menangkap ide. Saya kutip langsung dari tulisan beliau: Anda juga bisa meniru gaya Putu Wijaya dalam menjaring ide. Nongkrong di depan televisi, lalu memutar channel berita. Maka lahirlah serentet ide yang—ketika dikemas dengan apik—dapat menjadi cerita yang dahsyat dan penuh pukau. Hal berbeda dilakukan oleh Bambang Trim, seorang penulis ternama, yang mengail ide dari pelbagai katalog buku yang kerap didaras banyak penerbit. Dari judul-judul buku yang terbaca olehnya, mencuat rupa-rupa ide. Ada lagi teman saya yang menjaring ide di tengah keramaian, Bamby Cahyadi. Ia memilih duduk di tengah riuh mal, lalu melamun liar—memainkan imajinasi—dan membayangkan cerita demi cerita.

Menarik sekali cara menangkap ide, ya. Berarti ide bisa muncul di mana saja, kapan saja, dan cara menangkapnya juga banyak ragam. Lalu, menjinakkannya?

Karena Khrisna Pabichara tidak mengungkap tentang menjinakkan, maka mari kita interpretasi dengan perspektif kita. Menjinakkan adalah menuliskan ide itu menjadi tulisan.

Jadi teringat film-film yang ada adegan menjinakkan kuda. Caranya juga beragam ya. Ada yang lembut, ada yang intuitif naluriah dan berarti adu kuat dengan kudanya. Begitu pula cara menuliskan ide. Hal paling pertama yang perlu diingat adalah; menyimpannya.

Seringkali kita sudah mengembangkan dalam imajinasi, tetapi malah lupa menyimpan ide itu. Sehingga ketika ide lain muncul, atau karena aktivitas lain, maka ide itu menguap. Kita sibuk mencari-cari, tapi ingatan manusia dalam hitungan detik. Ada 60 detik setiap menit, ada 60 menit setiap jam, ada 24 jam setiap hari, dan 365 hari dalam setahun. Coba dikalikan semua itu: 31,5 juta detik.

Bila Anda tertarik membaca tulisan ini, bisa dipastikan usia Anda sudah lebih dari 15 tahun. Itu berarti lebih dari 473 juta detik usia Anda. Kalikan saja usia Anda dengan jumlah detik setahun tadi. Itu berarti ada sekian banyak memory yang Anda simpan dalam otak Anda.

Bila memory dimetaforakan sebagai selembar kertas, dan berada di antara lebih dari 473 juta lembar kertas lain, sudah terbayangkan kah sulitnya menemukan ide yang hilang itu?

Jadi, segera jinakkan ide Anda dengan mencatatnya. Ada ponsel pintar yang selalu Anda bawa? Itu alat untuk menjinakkan ide. Ada buku catatan dan alat tulis dalam tas Anda? Itu alat menjinakkan ide. Ada tissue toilet di samping Anda, dan polpen di saku? Ide Anda siap untuk dijinakkan.

Mengandangkan? Kita bicarakan di diskusi berikutnya, ya…

Penulis: Ardian Syam (@ArdianSyam)
Sumber: perspactive.blogspot.com
avatar 2