KamisNulis: Menulis (Tentu) Bisa Mendapatkan Uang


menulis2

Saya dihubungi oleh seorang teman. Dia dalam proses menulis sebuah biografi dengan gaya penulisan fiksi. Baiklah, itu gaya yang sedang populer sekarang. Tapi pertanyaannya adalah bahwa dirinya akan tanda tangan kontrak dengan si tokoh.

Boleh minta DP kah? Dia minta saya maklum, karena dirinya adalah pemula di bisnis biografi.

Saya bilang, silakan saja. Kan untuk membuat biografi ada biaya-biaya awal. Seperti biaya riset karena harus beli buku-buku tentang profesi tokoh tersebut. Atau bisa juga ongkos-ongkos untuk wawancara, survey, observasi. Tidak banyak, mungkin, tapi tetap mengeluarkan uang.

Boleh 20% kah? Saya jawab, silakan saja. Kalau bisa diterakan di kontrak juga. Saya sampaikan, kalau si tokoh tidak ingat, kirim saja tulisan berdasarkan riset paling murah (internet). Pasti si tokoh merasa informasi sangat kurang, nah itu kesempatan untuk mengingatkan yang 20% tadi.

Lalu dia bertanya lagi. Apakah selain buku, bisa mendapatkan uang dari menulis? Artikel, misalnya, teman saya itu memberi contoh.

Saya katakan, tentu saja bisa. Ada banyak sekali koran cetak yang membayar untuk para penulis artikel. Sering-sering saja mengirim ke koran-koran tertentu yang diinginkan, nanti juga dimuat. Seperti mengasah pisau, kalau sudah sering kan tajam juga. Kalau artikel sudah “tajam” kan akan dimuat juga.

Nah, bagaimana kita bisa mempertajam tulisan? Ini pertanyaan semakin bagus saja.

Saya sampaikan bahwa, sebaiknya menulis dalam satu atau sedikit variasi thema saja. Sehingga bisa berlatih menjadi lebih “tajam”. Ukuran tajam: bisa menangkap semua perspektif dari thema tulisan kita.

Misal, kalau menulis tentang buku digital. Bicara lah tentang “perusakan” yang terjadi akibat buku digital dan kertas. Modalnya, baca semua tulisan baik yang pro maupun yang kontra tentang thema yang kita tulis.

Teman saya itu berkata, pasti ada banyak orang yang berpikir dan menulis thema yang dia tulis. Maka dia harus punya kejelian dan ketajaman menulis sehingga punya sesuatu yang lebih, agar artikelnya dimuat.

Saya katakan, bila kita berhasil mengungkap dari banyak sisi tentang thema itu, maka tulisan kita memiliki keunggulan. Selain itu, setelah selesai menulis artikel dan mengirim ke koran, baca lagi artikel penulis lain yang menulis thema yang sama. Jadi ada perbandingan.

Apakah harus dibaca dulu oleh banyak orang? Dia bertanya lagi.

Betul sekali, teman. Bisa saja ditulis di blog pribadi atau di blog bersama seperti Kompasiana. Berharap ada komentar yang berdatangan. Sehingga kita jadi tahu kekuatan dan kekurangan tulisan kita. Say thanks kepada yang hanya memuji tanpa menunjukkan kekuatan tulisan kita, dan abaikan. Lebih banyaklah belajar dari kritikan.

Bagaimana tahu mana kritikan yang substansial? Ini pertanyaan semakin bagus terus.

Kritik yang bermanfaat: yang menunjukkan cara memperbaiki. Bukan hanya menyatakan kelemahan atau kesalahan tulisan kita. Bahkan bila perlu memberikan link ke artikel, berita lain yang sethema dengan tulisan kita. Percayai isi artikel itu, bila bukan sang pengkritik yang menulis. Kalau dia yang menulis artikel itu, baca dengan teliti dan belajar dari tulisannya, lalu browse lagi artikel dari penulis lain dengan thema yang sama.

Kalau ada kritikan yang hanya menunjukkan kelemahan tulisan kita, masukkan prioritas ke 2. Upayakan, saat sempat, browsing artikel yang sethema dengan tulisan kita. Yang hanya mencaci maki, atau hanya menunjukkan bahwa dia tidak setuju tanpa solusi, abaikan saja. Itu bukan kritikan, hanya emosional saja, tidak logis dan tidak perlu dianggap, siapapun yang menulis kritikan itu.

Jadi kalau mau dapat penghasilan dari menulis artikel: kirim saja langsung ke koran-koran tertentu, tunggu seminggu. Kalau tidak dimuat, masukkan ke blog bersama atau blog pribadi. Terus saja begitu, dan upayakan untuk memilih sedikit thema saja. Maka perlahan-lahan tulisan kita menjadi “tajam”

Penulis perlu ketekunan, ya, perlu kerja keras. Itu pernyataan dari teman saya itu.

Saya pikir, sepertinya tidak ada cara mencari penghasilan manapun yang tidak butuh ketekunan dan kerja keras + cerdas.

Selamat mencetak uang dari menulis!

Penulis: Ardian Syam (@ArdianSyam)
Blog: perspactive.blogspot.com