KamisNulis: Mengapa Memusuhi Ebook?

Banyak sekali yang menulis tentang buku kertas dan betapa banyak manfaat buku kertas bagi kehidupan. Bahkan ada tulisan yang menyatakan bahwa sastrawan, filsuf, politikus jaman dulu begitu intens dengan buku kertas, sehingga digambarkan sebagai menyatu raga dan indra mereka dengan buku kertas.

Betul sekali bila fakta digambar dari perspektif masa lalu dan dengan paranoia terhadap kekinian. Bahwa Goethe, Gogh bahkan digambarkan berumah dalam buku. Penggambaran bagaimana tokoh-tokoh jaman dulu begitu mencintai aktivitas membaca, sehingga buku memenuhi tempat tinggal mereka.Bahkan mempersatukan makna tubuh dan buku. Saya jadi takut sendiri, bagaimana bisa ada yang menyamakan ciptaan Tuhan (tubuh manusia) dan ciptaan manusia (buku). Merinding membacanya ada yang berupaya menyamakan Tuhan dengan manusia. Tubuh adalah tubuh, dan buku adalah bacaan.

Ada yang menunjukkan betapa beberapa tokoh kadang-kadang menyembunyikan bahkan membuang buku demi kepentingan politik. Menyembunyikan dan membuang buku dari rak sangat mudah dilakukan pada rak digital, bahkan bisa diaktifkan untuk dibaca lagi. Hal yang sulit dilakukan bila menggunakan buku kertas. Sekali kita membuangnya, maka tidak mudah untuk membaca isinya kembali.

Coba lihat statistik ini. Lihat bagaimana MMPB (mass market paper book) di tahun 2004 terjual sebanyak US$60 milyar dan tahun 2010 terjual sedikit di bawah US$ 60 milyar. Lihatlah bahwa selama 6 tahun penuh, saat ebook sudah mulai marak sejak 2001, penjualan buku kertas tidak menurun drastis.

Bahkan evolusi yang terjadi pada gadget yang muncul berturut-turut tidak mempengaruhi pertumbuhan buku kertas. Jadi statistik menunjukkan bahwa buku kertas tidak terbunuh oleh ebook.

Mari coba kita lihat statistik di bawah ini. Ada 23% yang membaca menggunakan (hanya) buku kertas. Sementara 36% membaca sudah menggunakan buku digital. Tetapi perhatikanlah, ada 41% dari responden survey itu yang membaca menggunakan buku kertas dan buku digital. Ini membuktikan statistik sebelumnya yang menunjukkan, apapun yang terjadi di buku digital kemungkinan kecil akan membunuh buku kertas.

Saya jadi ingat film Sang Pencerah ketika satu tokoh melecehkan Pak Ahmad Dahlan karena dia menggunakan peralatan maju (saat itu) seperti meja, papan tulis, dll untuk mengajar. Bahkan menyatakan bahwa barang-barang itu adalah produk kafir.

Menjadi lucu ketika Pak Ahmad Dahlan bertanya naik apa beliau (yang melecehkan itu) ke Yogya. Dijawab bahwa beliau naik kereta api. Pak Ahmad Dahlan langsung mengingatkan, bukankah itu juga produk Belanda.

Kondisi yang sama terjadi dengan orang-orang yang berusaha dengan keras menolak eBook. Semua media yang dia gunakan untuk menyatakan penolakan atas ebook, atau menyatakan kecintaannya pada buku kertas justru adalah media digital berbasis internet.

Saya jadi bingung sendiri, bagaimana bisa satu produk digital berbasis internet ditolak dengan menggunakan produk digital lain (facebook, blog, twitter) yang juga berbasis internet.

Lucu ya? Aneh ya? Syukurlah yang lucu dan aneh itu bukan saya.

Penulis: Ardian Syam (@ArdianSyam).
Sumber: perspactive.blogspot.com
avatar 2