Kamis Nulis: Dialog

menulis2

Ada beberapa pendapat yang akan kita perhatikan dalam hal pembuatan dialog pada naskah fiksi. Tulisan mereka sudah saya modifikasi ke dalam pemaknaan Bahasa Indonesia agar ajaran mereka dapat dipahami dan diikuti.

MARY COOK – Yang Penting Bukan Apa yang Dikatakan:

Menurut Mary dialog diperlukan untuk menunjukkan karakter tokoh di karya fiksi kita, dan harus dapat melakukan tugas itu. Bacalah beberapa novel, sebagian tokoh akan bicara pendek-pendek, singkat, dengan kata-kata tajam seperti penyanyi rap dan cepat, beberapa tokoh bahkan sebaliknya.  Itu menimbulkan ritme sendiri pada masing-masing tokoh.

Ada tokoh yang suka menggunakan kata “tau gak…” di setiap kalimatnya, ada juga yang sering menggunakan kata “baiklah…” ada yang sering menggunakan bahasa gaul, ada pula yang suka menggunakan kata-kata resmi sehingga saat membaca dialog tokoh itu, anda seperti sedang membaca kamus.

Tanda baca seperti koma biasanya menandakan tokoh itu berhenti untuk bernapas sebelum melanjutkan lagi ke kata berikut. Bila satu tokoh ingin ditampilkan sebagai orang yang bicara cepat dengan banyak kata dalam satu helaan napas, penulis perlu mempertimbangkan mengurangi penggunaan tanda baca.

Penulis juga tidak perlu menggunakan tanda seru terlalu banyak. Penulis yang baik hanya menggunakan satu tanda seru, karena ketegasan si tokoh seharusnya dapat dirasakan pembaca dari kalimat dialognya.

Anda dapat belajar banyak tentang dialog realistis dengan menguping percakapan orang lain. Keseluruhan percakapan dapat diketahui dari dialog dan gestur orang-orang yang bicara untuk lebih menekankan atau memperjelas isi pembicaraan. Di supermarket, di bus, di kereta api, di ruang tunggu, penulis bebas melihat dan mendengar apapun dan itu sumber asli bagi bahan dialog di novel karya anda.

Pengunaan bahasa daerah mengharuskan penulis untuk menjelaskan artinya dan bila terlalu sering akan membuat pembaca jengkel. Belum lagi, sering ada bahasa daerah yang dapat dirasakan maknanya bila mendengar rimanya.

Waspadai dialog antar tokoh. Dalam dunia nyata setiap orang akan menggunakan kosakata, kesantunan yang berbeda dengan teman bicara yang berbeda pula. Seorang tidak akan menggunakan kata “Bro” ke ayah mertuanya. Saat ini juga sudah jarang orangtua yang memanggil “Nak” kepada anaknya, seringkali memanggil dengan namanya langsung, dalam percakapan.

Banyak-banyaklah membaca novel, cerita pendek dan film. Setiap kali mendengar dialog tanyakan diri anda, mengapa si tokoh mengatakan itu. Jika anda menyatakan bahwa si tokoh seharusnya mengatakan dengan kata-kata berbeda setiap kali dia bicara, anda sudah mulai dapat memahami penulisan dialog.

Ada hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin ada orang di sekitar anda melantur dengan kalimat-kalimat panjang, biar saja. Tetapi pembaca akan membuang buku anda bila ada tokoh yang bicara dengan kalimat-kalimat panjang dan melantur.

Masih ingat tentang show not tell. Lebih baik anda menuliskan bagaimana dua tokoh saling menyapa tanpa harus membuat dialog panjang melelahkan bahwa mereka saling mengucapkan selamat pagi. Cara ini lebih memudahkan untuk menggambarkan perasaan antar tokoh. Anda sendiri sering menemui ada orang yang menggunakan kata-kata yang baik kepada orang yang dia benci, tapi bagaimana ekspresinya?

Ingatlah bahwa dialog diperlukan untuk membuat tokoh anda hidup, berfungsi untuk memperjelas karakter si tokoh. Ingat juga bahwa setiap dialog harus: jelas, singkat dan diperhitungkan pembaca.

CORA BRESCIANO – Menggunakan Kata Asing di Fiksi Anda:

Ada beberapa istilah dalam bahasa Inggris yang tidak bermakna dalam bahasa Indonesia, seperti cheesy. Bagi orang Amerika, kata itu bermakna murahan, padahal keju di Indonesia bukan barang yang murah.

Anda bisa saja membuat satu cerita dengan setting seorang Indonesia yang sudah sepuluh tahun tinggal di Italia dan bicara dengan para tetangga atau penduduk Italia. Bagaimana anda mengingatkan pembaca bahwa seluruh kata yang mereka pakai adalah Bahasa Italia? Menuliskan seluruhnya dalam Bahasa Italia, maka tak seorangpun pembaca di Indonesia mengerti apa yang mereka perbincangkan.

Gunakan frase dalam bahasa asing, tetapi terjemahkan.

Berikut skenarionya: seorang pemanggang roti menemukan sesuatu yang mencuat dari roti segar. Anda dapat menangkap suasana adegan dengan membuat tokoh itu mengucapkan kalimat pendek dalam bahasa Italia. Kemudian menerjemahkannya untuk para pembaca yang tidak akan memahaminya.

“C’é una chiave!” Sergio berteriak tak percaya. Ini kunci! Dia mengacungkannya ke cahaya.

Pendekatan ini menawarkan yang terbaik dari dua hal: keaslian dan kejelasan. Pembaca akan memiliki pengalaman bahasa Italia tanpa merasa tidak memadai atau frustrasi.

Gunakan frase dalam bahasa asing, tanpa menerjemahkan.

Beberapa kata-kata asing yang sederhana sudah dikenal oleh banyak orang Indonesia, karena itu anda mungkin tidak perlu menerjemahkannya.

“Buon giorno!” Pemilik kamar yang disewa Jennifer memanggilnya dengan salam hangat saat melewatinya di tangga.

Pembaca Anda hampir pasti akan memahami sedikit singkat ini Italia, jika hanya dari semua film Scorcese dia melihat. Dan bahkan jika Anda sedang menulis dalam bahasa yang kurang umum dari Bahasa Italia pun, adegan di belakang kata-kata itu sudah menjelaskan bahwa itu salam hangat.

Memberikan penjelasan panjang pada ekspresi asing yang tak biasa di Indonesia.

Dia mengacak-acak rambutku yang terurai di atas bantal. “Selamat malam, chou-chou,” bisiknya sambil mematikan lampu. Ibuku lama tinggal di Kanada yang berbahasa Perancis, dan chou artinya kubis, begitulah panggilan sayang di sana.

Dengan begitu pembaca dapat pemahaman frase dalam bahasa Perancis, bukan hanya arti katanya.

Anda dapat pula menggunakan kata-kata resmi untuk menunjukkan bahwa kalimat itu dikatakan oleh orang asing, dengan bahasa asing yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

“Janganlah kamu menangis, karena seorang kritikus seni tidak menangis saat dibantah oleh seniman yang dia kritik”

Gunakan gestur yang biasa dilakukan oleh orang asing yang menjadi tokoh cerita. Misal, menggelengkan kepala sebagai penegasan untuk menyatakan setuju atau mengatakan “ya” pada orang-orang India. Memejamkan mata dan meletakkan ujung jempol dan jari telunjuk di bibir serta memberikan ciuman sebagai ungkapan rasa lezat bagi orang Italia.

“In omnibus requiem quaesivi, et nusquam inveni nisi di angulo cum libro” atau “mina dulumati ila nuur” boleh saja digunakan, sepanjang apapun, tetapi saat karya-karya anda sudah banyak dibaca orang dan anda dikenal sebagai penulis yang suka mengutip ayat-ayat atau ungkapan-ungkapan dari satu bahasa tertentu.

Memang, pembaca, berbantuan internet akan mencari tahu makna (bukan hanya arti) dari kutipan panjang yang anda tuliskan, tapi itu hanya dilakukan kepada penulis yang sudah memiliki banyak penggemar.

Silakan gunakan kata asing, tapi usahakan agar pembaca anda tidak frustrasi.

Penulis: Ardian Syam (@ArdianSyam)

avatar 2