#twitterview Swastika Nohara, Penulis buku Papua Berkisah

Papua Berkisah web

“Love yourself enough to make the best out of it.” ~ Swastika Nohara

Pada tanggal 21 April 2014 kemarin, bertepatan dengan Hari Kartini, MOCO berkesempatan untuk mewawancarai Swastika Nohara. Tika, begitu wanita ini biasa dipanggil, juga merupakan seorang penulis naskah untuk berbagai film dokumenter dan ftv. Namun kali ini, kami bukan sedang membicarakan tutorial atau tips menulis naskah yang baik. Yang kamu obrolkan adalah buku terbaru Tika yang berjudul Papua Berkisah.

Ngobrol kami dimulai di jam 4 sore lebih dikit. MOCO memulai obrolan dengan bertanya tentang kesibukannya dan waktu yang disisihkan untuk menulis buku “Papua Berkisah” ini.

“Novel Papua Berkisah ditulis tahun lalu, meluangkan waktu khusus 4 bulan full time, gak disela kegiatan lain dan baru terbit April ini. Sementara untuk kerangka cerita novel Papua berkisah, dari awal sampai ending, sudah dibuat dari tahun 2008. Duduk masih aja di laptop. Jadi proses pembuatan novel Papua Berkisah totalnya ada 5 tahun kak… PHP aja nggak selama itu ya?” tutur Tika.

Benar, pada pertanyaan Tika di terakhir penjelasannya, kami tertawa.

MOCO kembali bertanya, kali ini mengenai fokus Tika untuk menyelesaikan buku ini.

Setelah 5 tahun kerangka cerita novel Papua Berkisah duduk di laptop, akhirnya ketemu penerbit @Loveableous, terus penerbit tertarik dan giliran saya deh yang dikejar-kejar mereka, “Ayo Tik, MANA DRAFT NOVELNYA?”, gitu.”

Jeda sebentar. Kami mengetahui hal itu dari balasan mention yang agak lama.

Sejujurnya ‘teriakan2’ mesra dari penerbit itulah cambuk semangatku nih. Pas sekolah dulu pernah punya guru galak kan?” Tutur Tika.

Benar jika kamu mengira obrolan kami sore itu seru. Tika adalah sosok yang rame dan juga lucu, ngobrolnya pun jadi lebih lepas karena pembawaan Tika yang menyenangkan. Pertanyaan MOCO beralih ke soal pemilihan setting tempat. Kenapa harus Papua? Adakah kenangan khusus?

Banyak kak.. Mulai dr jatuh cinta sampe patah hati. Jadi gini, pertama ke Papua jaman msh sekolah, ortu tinggal disana. Langsung suka banget! Tapi dilarang ortu sekolah disana cobaaaa.. Itu sebabnya aku patah hati. Kata bokap waktu itu, sekolah disana belum bagus, jadi dipaksalah anaknya sekolah di Jawa. Bye!”

Jika dalam obrolan beneran, mungkin di bagian ini kami sedang asik mencecap minuman sambil menunggu jawaban selanjutnya.

Benar saja, ada jawaban selanjutnya.

Banyak banget kisah2 heroik *tsaaah* selama shooting di Papua. Salah satunya, nyemplung sungai karena perahu nyangkut, eh ada buaya. Kalo mau tau cerita selengkapnya, ada di blogku:

Jadi, apa yang sebenarnya ingin disampaikan Tika dalam buku Papua Berkisah ini?

Know yourself, love yourself… Love yourself enough to make the best out of it.” Kutip Tika.

Antara menulis novel dan menulis naskah, lebih enak yang mana menurut Tika?

Beda kak, semua enak, asal dikerjakan dengan hati.” jawab Tika.

Dan pernah gak Tika mengalami writer’s block? Solusinya apa tuh?

Dengan canda, Tika menjawab, “Pernah dong! Solusi? Senam SKJ & baca doa. Enggak deh, soal writer’s block, biasanya sih ditinggal dulu tulisannya, ditinggal berenang, nonton film dll 2-3 jam, baru mulai lagi. Kalo writer’s block menyerang, tulisan ditinggal dulu, tapi jangan kelamaan. Tulisan juga ogah di-php-in!”

Betul! Semua juga tidak pernah ingin menjadi korban PHP. Hidup!

Terakhir, apa pesan Tika untuk temen MOCO yang ingin jadi penulis dan ada project apalagi nih kedepan?

Mulailah menulis setiap hari. Cara gampang & gratis untuk latihan: ngeblog. Kalo project kedepan, ada film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, rilis Juni 2014, saya nulis scriptnya. Mau nulis fiksi juga buat ebook di mobile apps Moco! Yay!” tutup Tika.

Iya, Swastika Nohara akan menulis sebuah ebook untuk MOCO. Apa itu? Tungguin aja. Kami tau kalo kamu penasaran :))

Jadi bagaimana dengan twiterview kami yang pertama dengan Swastika Nohara? Menarik, bukan? Jangan lupa beli buku Papua Berkisah dan nonton film Cahaya dari Timur: Beta Maluku di bulan Juni 2014 nanti.

(RR)