Hikmah Ramadan: Rasa Syukur

Be-Grateful

Dalam sehari, berapa banyak kita bersyukur? Tidak sering namun pastinya kita selalu mampu mengucap syukur pada saat-saat dimana kita merasakan banyak berkah yang sudah diberikan Tuhan dalam hidup.

Bersyukur yang sebenarnya itu bukanlah sekedar mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta, melainkan dengan cara beribadah yang benar kepada Allah dan melakukan sksi yang nyata dalam berkurban dan berbuat baik Karena Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (A-Kautsar: 1- 3)

Kita tidak pernah mencapai kesuksesan sesungguhnya sampai kita benar-benar menyukai dan mensyukuri apa yang sedang kita kerjakan.

“Sesungguhnya jika kamu BERSYUKUR, pasti Kami akan MENAMBAHKAN (NIKMAT) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Cara terbaik Allah untuk menambahkan nikmat kepada kita bukan dengan cara memberi nikmat yang lebih banyak, tetapi dengan cara memberi kemampuan menikmati yang lebih baik. Lebih menikmati dalam beribadah, dalam makan, atau dalam aktivitas lainnya. Untuk apa punya nikmat yang banyak jika kita tidak bisa mensyukurinya dan menikmatinya karena itu tugas kita bukanlah sekadar mensyukuri nikmat, tetapi juga menikmati rasa syukur itu sendirian. Dan rasa syukur yang paling utama adalah salat Karena Allah SWT.

Temen #Moco tau gak, saat Rasulullah sedang bersedih karena kehilangan Siti Khadijah dan Abu Thalib, Allah SWT menghibur beliau dengan perjalanan yang luar biasa, yaitu Isra  Mi’raj.  Berkat Isra’ Mi’raj, Rasulullah mendapat perintah baru yaitu salat.  Ini karena salat dapat menghibur Rasulullah yang sedang bersedih, menjadi lebih bahagia, dan lebih tenteram hatinya. Itulah salah satu alasan kenapa salat diperintahkan; yaitu untuk bersyukur kepada Allah dan menghibur hati di kala kita sedih.

Dan salat adalah bentuk rasa syukur yang paling utama di sisi Allah. Sayangnya, hanya sedikit orang yang merasakan bahwa salat adalah jalan menuju kebahagiaan,  bukan jalan yang penuh rasa keterpaksaan, dan bukan jalan untuk sekadar menggugurkan kewajiban. Jika hati sedih bersabarlah dan bersyukurlah kepada Allah dengan cara salat dan berusahalah untuk khusyuk. Insya Allah kita akan jauh lebih bahagia. Jangan menunggu bahagia baru bersyukur, tetapi bersyukurlah, Insya Allah kita akan jauh lebih bahagia.

Kebanyakan orang mencari kebahagiaan, tanpa menjadikan Allah sebagai tujuan. Orang-orang seperti ini yang akan mengalami kerugian meskipun dalam hal dunia, mereka seperti mendapatkan keuntungan. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati adalah yang benar-benar didapat dari jalan yang benar dan direstui oleh agama.

“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (Al- A’raaf: 182)

Orang yang beriman justru menciptakan disaat yang lain bekerja keras dan mencari-cari kebahagiaan.

Orang yang beriman justru bekerja dengan perasaan bahagia, jika yang lain ingin mendapatkan apapun untuk kebahagiaan. Orang yang beriman justru bahagia atas apa yang didapat. Dan jika yang lain ingin bahagia orang beriman sudah bahagia maka bersyukurlah kepada Allah lewat amalan-amalan kita.

Insya Allah kita selalu bahagia dunia dan akhirat. (RR)