Hikmah Ramadan: Agama, Antivirus Terbaik

lede_globalsurveymuslims-II

Temen #Moco pernah menggunakan PC atau laptop yang sangat lemot dan dipenuhi virus? Duh, pasti bermasalah banget, ya. Kerjaan tertunda karena lemotnya PC tersebut. Belum lagi resiko PC rusak karena serangan virus yang bertubi-tubi. Kalo sudah begitu, lalu bagaimana?

Biasanya kita akan memilih upgrade hardware dan aplikasi, untuk menyelesaikan masalah lemotnya PC. Menyoal virus? Kita tentunya akan mencari antivirus terbaik untuk membasmi virus-virus pengganggu tersebut. Benar begitu, kan?

Nah, analogi ini sepertinya cocok jika kita kaitkan dengan kehidupan manusia. Seringkali kita merasakan kebutuhan untuk memperbaiki dan memperbagus diri. Dalam kasus ini, sama seperti PC, kita pun perlu meng-upgrade apa saja yang ada di diri kita. Baik itu ilmu, akhlak, sikap dan pembawaan. Tentunya demi kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Nah, temen #Moco biasanya memakai antivirus apa nih? Kaspersky? Avas? Avira? Smadav? Atau apa nih? Apapun bentuk dan namanya, jenisnya ya tetep sama. Antivirus; menghilangkan virus yang menjadi pengganggu PC.

Sementara antivirus untuk diri adalah Agama. Hal-hal seperti rasa cepat puas, sombong, angkuh, iri, dengki dan lainnya memang sebaiknya dibasmi dari dalam diri kita. Bukan apa-apa teman #Moco. Kalo berjauhan dengan berbagai penyakit hati, hidup pun tenang. Iya gak?

Terus, caranya gimana ya supaya penyakit hati itu hilang dari diri kita? Persis seperti antivirus yang ada di PC, yang perlu kita lakukan adalah:

Update selalu ilmu agama kita. Semakin mengerti, semakin baik. Semakin bertambah ilmu, semakin rendah hati, layaknya ilmu padi, temen #Moco. Semakin berisi semakin merunduk. Orang-orang pintar pasti selalu bisa membawa dan menempatkan dirinya dimana pun berada.

Terus nih, jangan lupa untuk melakukan scan diri. Introspeksi diri sendiri. Sebuah PC tidak bisa melakukan scanning ke PC lain, sama halnya manusia. Gak perlu deh mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain, lebih baik melihat diri kita lebih dalam dan temukan berbagai kekurangan juga kesalahan yang harus diperbaiki. Jika menemukan sifat-sifat yang memang harus diubah, cepat ubah dan mulai kebiasaan baru yang lebih baik.

Kalo udah menemukan apa aja yang salah ketika scanning, jangan lupa untuk quarantine dan delete. Rekap lagi apa saja sikap buruk kita, cari solusi untuk mengubahnya. Dan jangan pernah balik lagi melakukan kesalahan juga kekurangan yang sama. Iya, kan? Siapa sih yang mau terus-terusan bertahan dengan sebuah hal yang membawa keburukan? 🙂

Akhirnya, semua kebiasaan buruk yang diganti menjadi kebiasaan baik akan menjadi sebuah kebiasaan baru. Namanya sebuah kebiasaan, pasti akan sering kita lakukan secara otomatis. Seakan udah terbentuk sebuah pattern baru di dalam otak untuk meninggalkan yang buruk dan selalu melakukan hal baik.

Karena hal ini, Agama bisa disebut sebagai auto-guard diri yang selalu melindungi kita dari segala macam keburukan dan juga hal-hal yang dilarang oleh Agama. Semua bisa dilakukan selama ada kemauan dan juga keinginan untuk menjadi lebih baik lagi.

Bicara soal menjadi lebih baik, Ramadan adalah saat yang tepat untuk memulai sebuah perubahan dalam diri. Menjadi lebih baik lagi, mengumpulkan segala macam pahala, melakukan banyak ibadah dan nanti, di hari yang Fitri, masing-masing dari kita akan menjadi orang yang seakan baru kembali dengan segala kebaikan yang kita raih.

Persis seperti sebuah PC yang sudah di upgrade dan diberikan anti-virus terbaik, kita sebagai manusia pun butuh segala macam renungan, perbaikan dan introspeksi untuk menjadi insan yang lebih mulia lagi.

Bisa? (RR)