Kamis Nulis: Flash Fiction

photo2 (1)

For Sale; Babys shoes, Never worn. – Ernest Hemingway

Boleh dibilang, Ernest Hemingway adalah salah satu penulis yang memperkenalkan jenis baru dalam membuat sebuah cerita. Flash fiction atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai fiksi mini ini beberapa tahun ke belakang digemari kembali, khususnya bagi mereka yang memang berprofesi sebagai penulis. Mungkin kamu juga salah satunya.

Flash Fiction. Apa yang terlintas di kepala kamu ketika mendengar kata tersebut? Sebuah fiksi yang cepat karena adanya kata flash disitu? Bisa jadi. Arti paling mudah dari flash fiction adalah sebuah karya fiksi yang sangat pendek, bahkan lebih pendek dari cerpen. Di Indonesia, flash fiction memiliki beberapa sebutan, seperti: cerita mini, fiksi mini, cerita sangat pendek, dan lainnya. Di luar negeri pun keadaan hampir sama, ada beberapa sebutan untuk mengistilahkan flash fiction. Dari mulai microfiction, sudden fiction, microfiction, micro-story, postcard fiction, dan short short story. Entahlah, mungkin karena belum adanya kesatuan dalam penyebutan yang menyebabkan ada perbedaan istilah di sana-sini.

Flash fiction memiliki ciri khas yang menjadi pembeda jenis tulisan yang satu ini. Yang pertama tentu saja tentang penggunaan karakter. Jika pada cerita pendek, karakter yang digunakan antara 2.000 dan 20.000 kata, maka flash fiction menggunakan antara 250 dan 1000 kata. Kenapa pendek banget? Ini berhubungan dengan ciri khas yang kedua.

Penulisan flash fiction sedapat mungkin menghindari deskripsi. Deskripsi yang umum dalam fiksi panjang seperti karakter atau latar (waktu dan tempat), tidak punya ruang dalam cerita 100 kata. Namanya juga flash fiction, jadi kurangi deskripsi, langsung aja bermain-main di klimaks atau titik permasalahan. Koleksi diksi dan keahlian memainkan cerita sangat diperlukan saat menulis flash fiction. Namun jangan lupa juga jika flash fiction juga memiliki babak yang sama dengan fiksi lainnya. Terbagi 3 babak, yakni babak awal, tengah dan akhir. Atau bisa juga diacak penempatan babak ini karena yang sebenarnya lebih penting dari flash fiction adalah punch line yang menohok. Ini yang menjadi poin utama dalam penulisan flash fiction, temen #Moco.

Biasanya, ending yang mengejutkan yang menjadi menu utama dalam penulisan flash fiction. Seperti yang tadi #Moco bilang, punch line yang menohok lah yang akan menentukan sebuah flash fiction menarik atau tidak. Jika memang tidak bisa menohok, paling tidak punch line yang kamu tulis bisa membuat pembaca menjadi terdiam sesaat atau melongo. Punch line yang biasanya terdapat di flash fiction adalah ending yang gak pernah kamu sangka sebelumnya. Semacam twist ending.

Tidak perlu ide yang berat dan njelimet dalam menulis sebuah flash fiction, karena ide tulisan untuk cerita kilat ini bisa datang darimana saja, termasuk kejadian sehari-hari. Mengisahkan tentang kesulitan sebuah keluarga hingga akhirnya harus berkorban nyawa atau tentang putus asa sering menjadi pilihan tema flash fiction, atau bermain-main dengan tema mistis dan politik. Intinya apa pun bisa dijadikan tema menulis selama kamu bisa mengolahnya.

Jika bisa ditarik kesimpulan dalam menulis sebuah flash fiction, yang perlu kamu tau adalah mulai dari judul, deskripsi, plot, karakter, babak dan benang merah harus dibuat sangat simple namun tetap nyaman dibaca. Untuk mencoba menulis flash fiction, kenapa tidak kamu membuat sebuah rangkuman tulisan dari sebuah cerpen yang menjadi favorit kamu dan selanjutnya kamu olah menjadi flash fiction.

#Moco mencoba membuat flash fiction nih. Kira-kira begini,

AKHIRNYA MENIKAH. Para tamu berurai air mata. Bukan tangis bahagia tentunya saat akhirnya kupasangkan cincin ke tangan kananku sendiri.

Nah, mana nih flash fiction bikinan kamu? Coba buat di kolom komentar. Ada hadiah poin #Moco lho buat yang membuat flash fiction 🙂 (RR)