Hikmah Ramadan: Belajar Ikhlas

ikhlas

Beberapa hari lalu, ceritanya #Moco ngobrol dengan salah seorang kawan. Membicarakan tentang sebuah hal yang mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan, terlebih jika itu menyangkut dengan sesuatu atau seseorang yang sangat kita sayangi. Benar, yang kami berdua bicarakan adalah tentang ikhlas.

Dalam hal ikhlas, kita diajarkan untuk tidak mengharapkan terjadinya take and give. Namanya ikhlas, pasti kita merelakan. Namun jangan salah, ikhlas jelas berbeda dengan merelakan. Tunda dulu bahasan tentang merelakan, karena fokus kita adalah tentang ikhlas. Di agama pun kita selalu dituntut ikhlas dalam menjalankan semua hal, termasuk segala ibadah dan amalan.

Jadi sebenarnya, apa itu ikhlas?

Ikhlas adalah ketika kita ditimpa berbagai macam masalah dan masih bisa mencari sebagian hal baik yang terjadi dibalik hal buruk yang dialami. Kita mampu bersyukur tatkala menemukan satu hal baik dibalik ribuan masalah yang menimpa.

Ikhlas adalah ketika kita rutin melakukan ibadah dan segala macam ajaran agama tanpa pernah mengharapkan balasan apapun, meskipun sudah jelas tertulis bahwa ada ganjaran untuk setiap hal baik yang dilakukan di jalan agama.

Ikhlas adalah ketika kita beramal dan berbuat hal baik dengan sungguh-sungguh tanpa pernah mengharap dilihat orang lain atau dipuji oleh sesama meskipun tahu, Tuhan selalu melihat apa pun yang terjadi.

Ikhlas adalah saat kita merasa bahagia dengan kebahagiaan yang diraih orang lain dan mengucap syukur juga mendoakan yang terbaik kepada orang tersebut.

Ikhlas adalah ketika kita tidak pernah merasa berat hati atau terbebani ketika ditinggal oleh orang-orang yang kita sayangi karena tahu, itu semua adalah kehendak Tuhan.

Apa lagi? Temen #Moco pasti bisa menambahkannya.

Dalam Islam pun, ikhlas dijelaskan dalam Al-Quran dan terdapat di berbagai hadits, salah satunya:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. (Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas )

Benar kalo dibilang sudah banyak banget yang mendefinisikan ikhlas, Namun kita terkadang absurd makna ikhlas yang sering bercampur dengan menerima segala sesuatu apa adanya. Bahkan kata ini diposisikan sebagai sesuatu upaya tidak melakukan apa-apa dan cenderung tidak berdaya.

Sederhananya, kita tidak bisa “mengikhlaskan” pekerjaan untuk Allah dengan meninggalkan Allah. Pekerjaan dengan niat tujuan baik (untuk Allah), tidak bisa dilakukan dengan melakukan pekerjaan yang tidak baik (meninggalkan Allah). Seperti orang berbuat korupsi, untuk menghidupi keluarganya. Makna yang lebih tentang ikhlas, ketika kita sudah meng-ikhlaskan pekerjaan kita, maka tuntaskanlah. Pekerjaan yang ikhlas adalah pekerjaan yang tuntas. Kita tidak bisa lagi menyandarkan bahwa kerja ikhlas adalah kerja yang lemah, justru kerja ikhlas adalah kerja profesional.

Pada akhirnya, kita semua memang masih belajar dan terus belajar dalam memahami dan berusaha untuk benar-benar bisa mengamalkan sifat ikhlas dalam diri kita di kehidupan sehari-hari. Jangan pernah menyerah, karena yang #Moco tau, di dunia ini gak ada kata ‘gak bisa’, yang ada hanyalah ‘belum bisa’ atau ‘tidak mau belajar’. Pastinya kita selalu ingin belajar untuk menguasai berbagai hal, termasuk ikhlas.

Yuk, terus menyempurnakan diri di bulan penuh berkah ini. Mencapai yang terbaik yang bisa kita lakukan dan tentunya mengamalkan ikhlas dalam kehidupa sehari-hari.

Selamat berpuasa, temen #Moco! (RR)