Selasa Bahasa : Sekarang dan Kini

Hai sahabat…

Masih menyambung soal bahasa yang pernah diulas Selasa, 30 September 2014 , mengenai pemakaian kata. Untuk Selasa bahasa minggu ini, 7 Oktober 2014, saya akan mengulas mengenai pemakaian kata Sekarang dan Kini.

Terlihat, kedua kata ini mirip maknanya sehingga keduanya seolah dapat saling menggantikan. Dapat dilihat seperti contoh di bawah ini.

  1. Karena dulu para penambang di daerah itu berpindah-pindah, kini/sekarang banyak tanah yang rusak.

Akan tetapi, jika diamati secara cermat, munculnya kata kini sangat terbatas dari kata sekarang. Kata kini  memiliki nuansa lebih khusus. Penggunaan kata kini mengedepankan kesinambungan antara yang terjadi pada waktu lalu dan ketika ihwalnya dibicarakan, antara yang terjadi dahulu dan terjadi saat ini.

Lihat contoh di bawah ini.

  1. Dulu dipandang sebelah mata kini disegani orang.
  2. Dia, yang selama ini dikenal sebagai model, kini mengadu nasib menjadi pengusaha.
  3. Dia pernah belajar Biologi di luar negeri, kini bekerja di perusahaan asing.

Walaupun penggunaan kata kini  berhubungan ke peristiwa yang terjadi di masa lalu, peristiwa itu sendiri tidak selalu harus disebutkan secara eksplisit. Peristiwa masa lalu yang dikaitkan dapat saja diungkap secara implicit dari konteks.

Coba lihat contoh berikut.

  1. Kini Bangka Belitung menjadi daerah tujuan wisata ternama.
  2. Kini tiada lagi orang yang mengenalnya.

Tanpa dihubungkan dengan masa lampau, kata kini tidak dapat dipakai.  Pemakaiannya pada contoh berikut ini tidak dapat berterima. Tanda bintang menunjukkan pemakaian yang tidak bisa diterima.

  1. Sekarang/*Kini atau lusa pembongkaran itu dilakukan?
  2. 1). Kapan dia akan pergi?

2). Sekarang/*kini?

Kata kini tidak dapat digunakan sebagai atribut untuk menjelaskan nomina. Bandingkan pemakaiannya sebagai atribut (yang tidak berterima) pada contoh h. 2). dan penggunaannya sebagai kata keterangan waktu (yang bisa diterima) pada contoh berikut.

  1. Ibunya sekarang/*kini lebih rajin bekerja.
  2. Suaminya yang sekarang/*kini menjadi pegawai negeri dan bertugas di daerah terpencil.

Akan tetapi, ada rangkaian dengan nomina tertentu yang membolehkan penggunaan sebagai atribut meski jumlahnya terbatas. Contohnya, masa kini. Tetapi, rangkaian seperti itu umumnya tidak berterima: “zaman kini”, “pemuda kini”.

Masih ada perbedaan lainnya.

Lihat contoh di bawah ini.

  1. Apabila sudah keterlaluan, sekarang/*kini kita tegur dengan baik-baik.
  2. Sekarang/*kini bangunan itu sebaiknya di renovasi. (Red)