Kamis Nulis : Menulis Itu Proses

Pernah dengar kata input, proses, output, kan? Iya, betul itu sebuah model yang digunakan untuk menganalisa sistem. Referensi tertua yang saya temukan adalah  tulisan J.O. Grady berjudul  “System Engineering Planning and Enterprise Identity,” pada tahun 1995.

Lha, apa hubungannya analisa sistem dengan menulis?

Tentu saja, karena menulis, sebagaimana metabolisme hidup adalah juga sebuah sistem. Jadi mari kita ambil perumpamaan dari metabolisme. Uniknya, sistem pencernaan tubuh kita adalah, outputnya terdiri dari 3 hal: energi, timbunan (lemak dan lain-lain) serta kotoran. Padahal inputnya bisa saja sama antara seorang dengan orang lain. Tetapi setelah menjadi output, bisa berbeda.

Maka, perumpamaan itu bisa kita ingat ketika menulis. Ada input, ada proses, ada output. Saya yakin sekali, Anda akan menyatakan: “Jelas sekali kalau begini, apa yang kita tulis adalah output.” Anda memang benar. lihanTapi karena tulisan adalah output, maka kita perlu melirik ke tahap sebelumnya: proses.

Tadi kita sudah diskusikan bahwa output bisa berbeda, sedangkan tulisan adalah output. Berarti bisa saja ada output lain selain tulisan, walaupun dua orang berbeda memasukkan input yang sama. Itu karena proses? Wah, Anda memang sangat paham dengan konsep sistem itu. Ya, proses bisa mengubah output, sama seperti sistem pencernaan.

Nah, karena menulis itu sendiri adalah sebuah sistem yang memiliki input dan output, maka kita perlu pahami konsep itu sebelum berkomentar apapun tentang menulis. Pernahkah Anda mendapatkan output yang banyak bila hanya memasukkan sedikit input?

Nah, Anda yang sering mengalami kemacetan saat menulis, coba ingat-ingat, berapa buku yang Anda baca setahun terakhir, sebulan terakhir, seminggu terakhir. Saya malas berolah raga, tapi ingin punya badan yang atletis dan tidak mudah lelah bila berjalan jauh. Atau, saya malas berlatih menggunakan alat musik, tapi ingin dapat bermain musik. Saya ingin dapat bicara dalam Bahasa Inggris, tapi tidak suka bila orang bicara dalam Bahasa Inggris kepada saya.

Tiga kalimat, semuanya ironi dan Anda menganggapnya kalimat yang aneh, atau berasal dari orang yang aneh. Tapi sebulan terakhir teman Anda tidak membaca satu buku pun, dan dia mengalami kemacetan ketika menulis (writing block). Menurut Anda itu biasa-biasa saja kah? Atau itu hal yang aneh menurut Anda? Nah, mulai terasa kan konsep input-proses-output nya menulis?

Sistem juga bisa berarti mesin penggiling. Ada padi sebagai input, ada beras dan sekam sebagai output. Penggilingan itulah prosesnya. Bisakah Anda bayangkan ketika padi yang dimasukkan hanya sedikit. Apakah penggiling itu bisa menghasilkan beras atau sekam yang banyak? Ya, saya tahu Anda sangat pintar dan menyatakan bahwa itu tidak mungkin. Tetapi, mungkinkah kita berharap akan muncul tempe dari mesin penggilingan itu? Nah, Anda jauh lebih pintar lagi bila menjawab tidak mungkin.

Ya, kita tidak dapat berharap akan mendapatkan hasil yang banyak bila tidak memberi input yang banyak. Kita juga tidak dapat mengharapkan hasil tertentu bila inputnya berbeda.

Itu sama persis dengan menulis. Seringkali, teman Anda berharap mendapatkan banyak pilihan kata, sementara dia tidak menambah jumblah buku yang dia baca. Atau berharap lancer menulis, padahal lebih suka tidur-tiduran. Nah dalam ilmu computer sering kita baca istilah garbage-in garbage-out ya?

Input tidak selalu hanya bacaan, tetapi bila Anda tidak membaca, maka jelas akan terjadi kekurangan pada kualitas input. Kok bisa begitu ya? Coba kita lihat ini, berapa banyak film yang sudah kita tonton seumur hidup, pasti lebih dari 20 judul film. Nah dari semua film itu, ada bagian-bagian adegan yang ingin kita masukkan dalam tulisan kita.

Oh iya ya? Nah, sudah mulai kelihatan kan sebabnya? Betul sekali, bagaiimana menerjemahkan adegan yang kita tonton itu menjadi tulisan? Itulah yang membuat kita perlu membaca buku lebih banyak lagi. Kita mendapatkan pilihan kata yang lebih banyak untuk menuliskan adegan itu. Jadi tetap saja kita butuh “contekan” dengan membaca tulisan orang lain.

Nah, sekarang Anda mulai terpikir tentang writing block kan? Betul, saya tidak terlalu percaya dengan writing block. Bahkan setiap kali orang bertanya bagaimana menghadapi itu, saya selalu menjawab, hanya dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, buat tulisan lain. Kalau tulisan baru itu mengalir dengan lancar, berarti tidak ada writing block. Ke dua, berhenti menulis. Jalan-jalan ke mal, nonton film, dengar lagu-lagu, baca buku, atau tidur. Setelah salah satu dari dua hal itu dilakukan dan kembali ke tulisan sebelumnya, pasti akan lancar. Kalau masih belum lancar, lakukan lagi salah satu dari dua hal tadi.

Mengapa begitu?

Ingatkah Anda bahwa tanah yang habis ditanami padi, perlu ditanami hortikultura untuk mengembalikan humus tanahnya agar subur kembali? Coba lihat blender Anda. Cara paling cepat membersihkannya adalah dengan memasukkan air ke dalam blender, lalu nyalakan. Mesin akan memutar air dan membersihkan sisa-sisa yang menempel di blender. Setelah melakukan itu, tanah akan menjadi subur untuk ditanami padi dan blender akan lancar untuk menggiling buah lagi.

Trik yang sama dilakukan dalam menulis. Ketika terjadi proses dengan input yang berbeda, membuat proses menjadi lancar kembali untuk mengolah input semula. Bukankah writing block terjadi ketika proses itu macet. Maka lakukan untuk mengolah tulisan lain, sehingga jadi lancar kembali.

Untuk trik ke dua, kita juga bermain di sisi input. Bukan untuk mendapatkan output yang berbeda, tapi justru menambahkan input yang berbeda agar dapat diproses untuk output yang kita harapkan semula. Tulisan Anda yang macet, ditambahkan input berupa tontonan (film atau lingkungan sekitar di mal dan lain-lain), suara-suara dari lagu yang didengar, termasuk buku lain yang kita baca. Sehingga kualitas tulisan kita akan meningkat.

Pernah tahu bagaimana orang-orang di Martapura mendapatkan intan? Mereka menggunakan ayakan yang sangat besar, mengeruk dasar sungai, lalu diayak. Input yang lebih banyak, akan memberi mereka output yang lebih berkualitas (intan). Kalau hanya mengambil sedikit saja, kemungkinan mereka hanya mendapat sedikit intan, atau bahkan hanya mendapat pasir saja.

Jadi tetap saja, writing block itu tidak ada. Para penulis kurang memasukkan input ke dalam proses menulisnya, sehingga mendapatkan kualitas tulisan yang kurang sesuai harapan. Karena kualitas yang kurang, seringkali penulis menganggap sebagai writing block. Solusinya hanya menambah input sebanyak-banyaknya.

Tapi menulis itu proses dan tulisan itu output. Ketika proses mengalami kemacetan, mesin tidak bisa bergerak, coba untuk memproses input yang berbeda dan berharap mendapatkan output yang berbeda pula. Maka blender yang menggiling air akan membersihkan dinding dan pisau blender sehingga proses menjadi lancar kembali.

Percayalah, menulis itu proses. Percayalah writing block itu tidak ada.