Gundahku Menatap Potret Itu

gundah

Aku sedih menatap keheningan ruangan itu. Tak bernyawa. Bilik kecil itu tampak rapi dengan perabotan tua di sekelilingnya. Tak ada lagi yang tidur di ranjang berkelambu itu. Tak ada lagi nenek yang duduk di kursi goyang kesayangannya. Tak ada lagi burung bertengger di dahan tepat di depan jendela kamar, menyenandungkan lagu yang akan membuatku dan nenek merasakan makna alam. Ruangan itu menyepi selama bertahun-tahun terakhir ini. Yang ada hanya potret tua wajah nenek yang terletak di atas meja.

IMG_20141030_144338

Kumpulan Cerita Pendek karya Sansadhia pertama kalinya menggema di dunia digital. Guru Kehidupan sebagai permulaan cerita, bercermin diri merenungi pertanyaan-pertanyaan kehidupan dalam diri. Gundahku Menatap Potret Itu adalah nyawa dalam karyanya yang mengalun indah, bahasanya mengalir tanpa sela. Cerita dongeng masa kecil yang diramu kembali berjudul Kecantikan Putri Salju mampu membawa imaji melayang.

Kau Butuh Teman kemudian yang menguatkan ceritanya ini, bahwa teman adalah sayap untuk kita terbang ketika tak mampu berpijak. Panas Jakarta dan Stasiun Kereta membawa kita masuk ke dalam dunia yang tak tentu. Sebuah Pilihanlah yang akhirnya membawa kita masing-masing dalam setiap langkah kehidupan yang terus bergerak. Ceritanya berirama  walau berbeda tema namun tak membuat alunannya terhenti.

Sansadhia sudah bersahabat dengan fiksi sejak kecil. Salah satu cerpennya, “Jemari Laurin” mengantarkannya meraih juara 2 Sayembara Menulis Cerpen tingkat Sumatera Barat tahun 2005. Cerpen ini pula yang masuk ke dalam Kumcer Jemari Laurin (2007) terbitan Balai Bahasa Padang. Si sulung yang berprofesi sebagai editor ini kembali berkolaborasi dengan Sarekat Penulis Kuping Hitam dalam melahirkan Lenka (2011) terbitan Banana Publishing dan kini aktif sebagai kontributor dalam blog penulis kupinghitam.com. Belum puas mengais pengalaman menulis, ia juga berkolaborasi dengan para pendaki gunung menerbitkan sebuah buku horror, Penunggu Puncak Ancala (2013) terbitan Bukune.

Gadis kelahiran Padang ini sangat memuja kata. Karya adalah nadinya, kata adalah darah yang mengaliri kisahnya. Ia percaya banyak makna dibalik cerita. Kicauannya boleh diintip via akun Twitter @sansadhia dan blog pribadinya jurnaland.blogspot.com.