Alunan Cinta Dalam Lensa nya Pratista Qonita Millganuari

prat

Menulis salah satu hobiku. Entah sejak kapan hobi itu tumbuh begitu saja tanpa disadari. Ada suka dan cita saat mencoba merevisi naskahku yang menurutku sempat gagal ini. Salah satu ujian yang aku hadapi adalah soal mama. Mama selalu bilang bahwa aku hanya membuang waktu dengan mengetik, Mama selalu marah saat aku ketahuan sedang menghabiskan waktu bersama notebook. Mama bilang, dengan menulis aku tak pernah bisa menghasilkan apa-apa. Padahal pada dasarnya, dengan menulis seseorang menghasilkan sebuah karya. Dengan terbitnya buku digital ini aku ingin membuktikan pada Mama,bahwa aku benar-benar serius. Aku benar-benar sangat senang, akhirnya aku menemukan wadah yang tepat untuk menampung hasil karyaku yang sangat jauh dari kata sempurna ini. Setidaknya, seorang penulis buku bestseller pun masih tetap harus melewati proses editing. Karena, tidak ada satu pun karya yang sempurna sebelum direvisi. 

Pratista Qonita Millganuari, remaja kelahiran Demak, 1 Januari 2001. Saat ini sedang duduk di bangku kelas 9, SMP Negeri 6 Bandung. Pratista juga aktif menulis sebuah fanfiction sekaligus ia adalah owner dari sebuah situs fanfiction tersebut. Ia bercita-cita menjadi novelis muda sekaligus editor naskah terkenal. Alunan Cinta dalam Lensa adalah karya pertamanya yang diterbitkan. Untuk melihat karya Pratista lainnya bisa dilihat di situs http://aliandoprillyfanfiction.wordpress.com. Jika ada yang ingin meengobrol dengannya di social media dapat mention ke Twitter @Pratistaaa.

Cinta Mengalun dalam Lensa

Aksaramaya menemukan satu lagi penulis muda yang berbakat. Di usianya yang belia, ia sudah tahu struktur narasi dengan baik, pembangunan karakter, dan pendeskripsian latar. Ya, dia adalah Pratista Qonita Millganuari. Masih dalam edisi Fanfiction, Pratista mampu membangun ceritanya dengan detail yang cukup apik. Kisahnya memang tidak panjang dan tidak pula punya banyak konflik.Namun, penuturannya termasuk baik.

Alunan Cinta dalam Lensa berhasil membidik satu hal yang menjadi fokus cerita.Pratista memang mengangkat tokoh Ali dan Prilly dalam kisahnya, tapi dia mengambil sudut kamera sebagai pengantar ceritanya.Dari sanalah cerita cinta mengalir dalam alur. Dengan mengambil Point of view tokoh Prilly, Pratista mengulum ceritanya menjadi renyah dengan gimik humor yang sedikit diselipkannya dalam penceritaan.

Enak dibaca dan cuma ada di Moco.