Mendongkrak Literasi Melalui EPustaka

Moco-Apps

Literasi masyarakat Indonesia tergolong rendah. Perpustakaan yang tersebar di seluruh negeri ini cuma berjumlah 2.585. Angka ini tidak sebanding dengan jumlah populasi yang mencapai 240 juta jiwa. Kondisi ini diperparah buruknya pengelolaan perpustakaan.

Di sisi lain, kemajuan teknologi memungkinkan digitalisasi perpustakaan (e-pustaka). Inilah yang menyebabkan sejumlah perpustakaan di luar negeri beralih ke e-pustaka. Digitalisasi perpustakaan ini dilakukan demi mendongkrak tingkat literasi masyarakat dan budaya membaca.

Tak mau kalah dengan di luar negeri, Moco—lembaga komersial di bidang perbukuan—pun merilis e-pustaka sejak enam bulan lalu. Moco merupakan perpustakaan buku digital, tempat pembaca bisa menyimpan, membaca, dan mengembalikan buku digital dengan cepat dan mudah tanpa terbatas ruang dan waktu. Moco dapat diakses dengan beragam device (alat), salah satunyagadget (ponsel pintar dan lainnya).

“Jumlah hutan semakin berkurang. Banyak bangunan yang dibutuhkan untuk penyimpanan buku. Moco ini kami dirikan dengan konsep perpustakaan ramah lingkungan. Berisi buku-buku digital yang efisien dan hemat waktu dalam penyediaan rak bukunya,” jelas Chief of Editor Moco, Junwinanto, di Jakarta, Senin, 16 Februari 2015.

Moco, kata dia, mencoba memfasilitasi orang-orang yang biasa membeli buku di toko buku atau berkunjung ke perpustakaan.

“Kita transformasikan melalui digitalisasi. Tinggal klik, kita sudah bisa mengakses semua buku yang dikoleksi,” sambungnya.

Di Moco, pengunjung atau user tak hanya dapat membaca buku secara gratis tapi juga bisa menjadi anggota (member) laiknya perpustakaan pada umumnya. Moco juga melayani pembelian buku digital. Pengguna atau pengunjung juga diberi pilihan dalam sistem keanggotaan, yaitu gratis (buku yang diakses terbatas), dan berbayar Rp 20 ribu-Rp 50 ribu per bulan, hingga Rp 250 ribu per tahun.

Moco juga memiliki penerbitan tersendiri, yaitu Penerbit Aksara Maya yang terbuka bagi para penulis di Tanah Air untuk berkarya melalui buku digital. Prosesnya tak jauh beda dengan penerbit pada umumnya. Penulis menawarkan konsep materi bukunya. Jika lolos, maka bukunya akan disunting dan siap diterbitkan.

Bedanya, royalti buku yang diterbitkan dalam bentuk digital lebih besar ketimbang yang diterbitkan secara konvensional. Penulis mendapatkan royalti 25 persen dalam penerbitan digital, sementara penerbit konvensional mematok royalti sebesar Rp 10 persen. Tentu saja tawaran ini cukup menggiurkan bagi penulis.

“Kita juga membantu penulis membuatkan teaser bukunya dalam bentuk video, ilustrasi, dan promosi di media sosial. Royalti ini juga tergantung usaha si penulis. Semakin besar kontribusinya dalam mempromosikan dan menjual bukunya, maka semakin tinggi royalti. Maksimal 45 persen,” ungkap Junwinanto.

Moco memang pemain baru di dunia e-pustaka. Namun proses membangun konten sudah mereka lakukan sejak tiga tahun lalu. Hingga kini, Moco sudah mengoleksi 3.000 judul buku. Moco juga berhasil menggaet sejumlah penerbit besar, salah satunya kelompok Gramedia.

Saat ini, Moco mampu membukukan omzet sekitar Rp 100 juta per bulan dari penjualan buku. Pendapatan segitu masih di bawah biaya operasional yang mencapai RP 300 juta per tahun. Tekor, tentu saja. Tapi kekurangan itu tertutupi dari iklan dan sponsor.

Keanggotaan Moco sudah mencapai 20 ribu orang dengan pengunjung tetap mencapai 100 orang per hari. Sejauh ini, jumlah pengunjung tertinggi adalah remaja yang jumlahnya di atas 50 persen. Lalu dewasa, anak-anak, dan lansia.

“Memang susah mengubah kebiasaan orang membaca. Setidaknya pertumbuhannya bagus. Setiap bulan selalu ada peningkatan jumlah pembaca, mulai dari anak Sekolah Dasar (SD) sampai usia 70 tahun,” kata Junwinanto.

pusind

Digitalisasi PDS HB Jassin

Belakangan, orientasi Moco tak melulu komersial. Mereka juga membuat Program Heritage, yaitu digitalisasi koleksi buku sastra karya Pujangga Lama di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin sejak. Proyek yang digagas sejak Maret 2014 ini bertujuan untuk menyelamatkan karya sastrawan Indonesia. Juga membuka akses pembaca di kalangan internasional tanpa dibatasi ruang dan waktu melalui pemanfaatan teknologi.

“Kita melakukannya dengan sangat hati-hati karena usia bukunya sudah tua. Tidak boleh berkeringat saat membukanya. Bahkan, ada yang menggunakan kaca saat dipindai. Ini sebagai antisipasi agar tidak robek atau rusak,” tutur Jun.

Selama 4 bulan, Moco berhasil mendigitalisasi sekitar 98 judul buku. Kini, karya maestro sastra dan penyair Indonesia seperti Marah Rusli, Iwan Simatupang, Abdul Muis, Sutan Takdir Alisyahbana, Ajip Rosidi, dan sebagainya,  sudah bisa diakses di laman Moco.

Belakangan, upaya digitalisasi ini mandek karena masalah dana. Menurut Jun, proses digitalisasi satu judul buku membutuhkan sedikitnya dana Rp 1 juta atau rata-rata Rp 1.000 per halaman.

PDS HB Jassin merupakan perpustakaan yang mengoleksi sekitar 200 ribu karya sastra Indonesia. Separuh buku tersebut berusia ratusan tahun. Menempati areal seluas 90 meter, kondisi perpustakaan ini tak jauh beda sejak berdiri pada 1977 lalu.

Saat dikunjungi VARIA.id, Senin, 16 Februari 2014, perpustakaan yang berlokasi di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat ini tampak lengang dan suram. Hanya tampak satu dua orang yang tengah asyik membaca. Selebihnya, karyawan perpustakaan yang kebanyakan duduk-duduk dan lainnya tengah asyik mengkliping berita dari surat kabar.

“Sehari-hari memang seperti ini. Dalam sebulan hanya didatangi sekitar 60 pengunjung. Tapi kalau menjelang ujian, bulan September-Oktober, banyak mahasiswa sastra dan bahasa yang datang,” ujar Kepala Pengolahan Data PDS HB Jassin, Agung Trianggono.

Pada 2011, perpustakaan yang dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta ini nyaris bangkut lantaran tidak sanggup membiayai operasionalnya. Gara-garanya ada pemangkasan anggaran dari negara. Perpustakaan ini cuma dijatah Rp 50 juta per tahun. Padahal sebelumnya mencapai 500 juta per tahun (2003), lalu menciut menjadi Rp 165 juta pada 2010. Hal ini menggugah banyak kalangan untuk menggelar Koin Sastra sebagai penyelamatan perpustakaan.

“Biaya perawatan perpustakaan ini sangat besar. Apalagi menyimpan buku dan karya kuno yang butuh penanganan khusus. Upaya digitalisasi ini memang mendesak. Meski proses digitalisasi juga butuh biaya yang besar sehingga kami butuh dukungan banyak pihak,” lanjut Agung.

Tak dimungkiri, pengelolaan perpustakaan yang minim turut mendukung penurunan tingkat literasi masyarakat. Penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) 2014 menunjukkan, budaya literasi Indonesia terburuk kedua dari 65 negara dunia, menempati urutan ke-64. Sedangkan Vietnam bertengger di urutan 20 besar.

Sebelumnya, data statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya setiap 1.000 penduduk hanya satu orang yang memiliki minat baca. Bahkan, United Nations Development Programme (UNDP) menyebutkan, angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen. Jauh dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai 86,4 persen.*

Sumber : Varia.id