Buku Rekomendasi: Mualaf

Screenshot_2015-11-02-14-08-21

Masih ingat aplikasi iJakarta yang dilaunching oleh Gubernur DKI Jakarta bulan Oktober lalu ? Aplikasi iJakarta menyediakan banyak sekali ebook dari penerbit ternama. Membuat kebutuhan akan membaca bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Salah satu ebook yang banyak diminati oleh pembaca iJakarta berjudul Mualaf karya John Michaelson. Ebook ini bisa dipinjam secara gratis di aplikasi iJakarta melalui smartphone berbasis Android, iOS dan bisa juga bvia Laptop dan PC. Yuk baca sedikit reviewnya yang ditulis oleh Fauzan Fadli.

This book is blessed with such an interesting title. Mualaf is a magical word, especially for Indonesian moslem. Most of us (Indonesian) are born as a moslem. To know a person who choose to be a moslem after worshiping other religion feels like an honor, a pleasure, a pride, a winning moment for us.

I do put particular expectation when picking Mualaf from Gramedia week ago. I wished i’d find an interesting turning point, a blunt and bold reason of why, and a spiritual journey of some bule until he found Islam is the way. That ideas have already exploding on mind. let alone, Prof. Azyumardi Azra shouted a tempting endorsement upon this book!

The very first part of Mualaf telling us how a mid-age guy rolling his un-arranged life. being an A.C.O.D (adult children of divorce) seems hard. He is struggling with drugs, juvenile delinquency, bullying, early-loving story, young pregnancy, and stuffs. It divided into three chapters, and i like the third one. i think the first and the second one has the same plot, the same story. they meant to describe how he was such a sinful-untamed-faithless-adventurous-yet-so-loving guy.

This book is like short stories chained into one. Not the type of book that made me get up from bed either. I read it casually, but when i came to the third chapter, i let myself awake until midnite. The way he tells us about how he sees Indonesian, how he understands Islam, and how he falls in love is mesmerizing. I love how he sum everything up, telling himself about how Islam is the way, how he translated all of the virtues and linking it into Islam. Somehow, as a born-moslem, i feel like poked. How we are, with the blessing we all got, to born as a Moslem have ignoring those virtues. I feel poked when he quoted certain verse of Quran.

The point is, if he aimed to put this book as the medium of Dakwah. He does really a good job.

I feel ashamed. And you — whether you’re a Moslem or not, would surely feel so.

—————————–

Ada banyak hal yang bikin kita melek. Salah satunya adalah dengan bertemu orang baru. mendengarkan ceritanya, lalu secara spontan menbandingkan ceritanya dengan apa yang kita tahu. Apa yang kita alami. Saya sebisa mungkin tidak membicarakan tentang agama di sini (di dunia maya secara umum). Apalagi tentang Islam. Karena soal keyakinan adalah soal keyakinan. Saya menjunjung tinggi lakum diinukkum waliya diin.

Saya baru saja selesai membaca buku ini. Seperti judulnya, sebagai seorang Muslim sejak lahir, ini adalah judul yang sangat menarik. Membaca lembar demi lembar kisah seorang berkebangsaan Inggris dengan harapan menemukan titik balik soal keyakinannya tentang Islam.

Sayangnya, saya tidak begitu tertarik dengan titik itu. Paling tidak setelah membaca keseluruhan bukunya. Buku ini tidak menceritakan tentang bagaiaman kontemplasi seseorang yang akhirnya memeluk Islam. Bukan perjalanan spritual penuh misteri yang magis. buku ini merangkai bab demi bab dengan satu tujuan yang tebal dan jelas. Memberikan pembacanya serpihan-serpihan puzzle dan membiarkan kita semua punya terjemahan sendiri.

Membuat temuan akan Islam yang dialami sendiri oleh penulisnya menjadi semakin indah.

Yang justru membuat saya tertarik adalah cara si penulis membuat saya bangun. Membuat saya lebih tertarik untuk bercermin. Betapa beruntungnya saya. Betapa saya telah terlambat mengenal Islam lebih dalam.

Semoga ini bukan hanya sentilan kecil buat saya. Insya Allah.

Sumber : Blog Fauzan Fadli