Membangun Budaya Baca dan Mengantisipasi Perubahan Manajemen Perpustakaan

 

dscf6092

Pada hari Rabu, tanggal 12 Oktober 2016, bertempat di Perpustakaan Dikbud berlangsung acara Kopi Darat – Kongkow Pendidikan Diskusi Ahli dan Tukar pendapat yang mengambil tema Menumbuhkan Budaya Baca dan Meningkatkan Manajemen Perpustakaan.  Hadir sebagai narasumber dalam acara Kopi darat ini adalah Dr. Supriano, M.Ed selaku Direktur Pengembangan Sekolah Menengah pertama dan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hanna Catherina George, SS, MI.Kom selaku Ketua Umum Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia, Nur Kan’ah, SH selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Muhammad Basri, S.Pd., M.Si selaku Kepala Sekolah SDN 1 Allakuang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan dan Sulasmo Sudharno selaku Founder iJakarta (CEO Aksaramaya).

Sebagai negara berkembang, Indonesia ternyata belum menunjukkan performa yang baik dalam uji keterampilan membaca di tingkat internasional. Hasil studi internasional menyebutkan bahwa Indonesia adalah satu diantara 12 negara dengan nilai yang rendah secara signifikan di bawah standar internasional mengacu pada Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Di samping itu Programme for International Student Assessment ( uji PISA ) menunjukkan bahwa pelajar Indonesia berada 3 tahun tertinggal di belakang rata-rata kemampuan membaca para pelajar di negara-negara yang tergabung dalam Organisastion for Economic Cooperation and Development (OECD). Indonesia bahkan berada di urutan 60 dari 61 negara berdasarkan tingkat literasinya seperti yang disebutkan oleh Connecticut State University Amerika Serikat di tahun 2016.

Terkait dengan rendahnya minat baca tersebut, Dr.Supriano,M.Ed mengatakan, sejauh ini sudah ada niat untuk menggerakkan minat baca di Indonesia. Sedangkan menurut Hanna Catherina, situasi minat baca di Indonesia sendiri masih bervariasi di mana kita masih bisa melihat banyak anak membaca di toko buku tapi tidak demikian halnya di perpustakaan. Sementara menurut Sulasmo, di iJakarta terdapat 5000 buku yang dipinjam setiap harinya dengan trafik yang beragam . Budaya baca sekarang juga mulai berubah karena orang lain bisa mengetahui apa yang kita baca. Sulasmo juga menambahkan supaya kita jangan terlena dengan indikator yang dibuat orang terkait minat baca masyarakat Indonesia.

Muhammad Basri berpendapat bahwa anak-anak Indonesia selama ini hanya sekedar membaca. Tetapi tidak dajarkan bagaimana membaca mandiri, membaca bersama dan membaca terbimbing yang menumbuhkan motivasi membaca. Ditambahkan oleh Nur Kana’ah, saat ini di Sidrap sudah ada program baca 15 menit sebelum belajar untuk para pelajar. Semua stakeholder di Sidrap dilatih untuk sosialisasi program baca 15 menit ini. Bahkan branding melalui mobil dinas di Sidrap juga dilakukan untuk menyosialisasikan hal ini. Sementara untuk daerah yang tidak bisa dijangkau mobil perpustakaan, pihak Dandim memberikan dukungan dengan menggerakan motor baca. Jadi semangat membaca ini harus setiap saat dikumandangkandan dan harus menjadi kepedulian semua pihak. Tentunya hal ini harus menjadi teladan bagi daerah lain untuk menggerakkan minat membaca.

Terkait adanya perubahan manajemen perpustakan, menurut Supriano saat ini terdapat 213 ribu sekolah yang ada di Indonesia dan ada 74 ribu lebih sekolah yang belum memiliki perpustakaan. Saat ini sedang dikembangkan sekolah rujukan di 514 kabupaten/kota yang dilengkapi dengan perangkat komputer dan internet dalam manajemen perpustakaan.

Sementara Hanna Catherina menambahkan bahwa ada 2 konteks penting yang harus dibangun. Yang pertama adalah pustakawan, dimana selama ini pustakawan banyak diambil dari tenaga guru sehingga kurang leluasa untuk bergerak. Tantangan yang harus diberikan adalah bagaimana supaya anak SD tidak bisa lepas dari buku. Yang kedua adalah program. Mulai dari bagaimana mengajarkan kesukaan untuk membaca pada anak. Dan role tersebut harus di dapat mulai dari rumah hingga di sekolah. Untuk level SD, buku cetak jauh lebih powerfull. Sedangkan untuk level SMP dan SMA , penggunaan teknologi untuk membaca sangat bagus dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak di usia tersebut.

dscf6097

Sedangkan Sulasmo mengatakan  iJakarta hadir di tengah minat baca yang kurang bagus sementara minat pada social media justru merajalela. Orang tua banyak melarang anak-anak menggunakan gadget karena masih memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan pada anak-anak mereka. Padahal banyak hal positif yang bisa didapat dari penggunaan gadget dan internet bila mendapat edukasi yang baik. Hal yang juga terjadi sekarang di Indonesia adalah adanya perubahan pola baca, dimana konten nya tidak ada karena konten yang ada kebanyakan sebatas mengkonversi buku cetak menjadi digital, tidak punya payment gateway dan aplikasinya tidak menarik. Adapun program yang terdapat di iJakarta adalah meminjam dan membaca buku, menulis, publikasi, donasi, dan membuat epustaka. iJakarta sendiri tidak hanya sekedar digunakan untuk membaca, tapi juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.

Sebagai penutup acara Kopi Darat, Ir.Totok Suprayitno, Ph.D selaku Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud mengapresiasi kerja keras berbagai pihak yang berusaha menumbuhkan minat baca di Indonesia. Totok berharap, perpustakaan ke depannya tidak hanya sekedar bangunan dan isi yang berada di dalamnya. Tapi juga ada program dan struktur yang membuat anak-anak berkunjung ke perpustakaan. Dan akan lebih banyak kegiatan yang bisa dilakukan dari membaca seperti membuat resensi, story telling, membuat drama,dsb.