#JakarteKite Si Pitung

BangPitung

Di tanah Betawi hampir tidak ada yang tidak mengenal Pitung. Ibarat Robin Hood. Pitung adalah pahlawan bagi masyakarat Betawi karena membela rakyat kecil dari segala bentuk penindasan yang dilakukan penjajah Belanda. Pitung merampok orang-orang yang menjadi kaki tangan penjajah dan selanjutnya membagikan hasil rampokannya kepada rakyat jelata. Namun, kepahlawanan Pitung bagi rakyat kecil menjadi boomerang bagi penjajah Belanda karena Pitung dianggap sebagai seorang kriminal. Kisah si Pitung sendiri dituturkan dalam beragam lakon, seperti syair, lenong, dan balada.

 
Masa Kecil Si Pitung

Si Pitung dilahirkan di kampung Rawabelong dari pasangan Bang Piun dan Mpok Pinah. Si Pitung merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Masa kecil Pitung dihabiskan dengan mengaji, belajar ilmu agama dan ilmu silat pada Haji Naipin karena orang tuanya berharap Pitung kelak menjadi pendekar yang taat beragama.

 
Tersangkut Dalam Dunia Perampokan

Dari asalnya disuruh ayahnya menjual kambing ke Tanah Abang, Pitung menjadi korban perampokan dan uang hasil penjualan kambing tersebut raib. Akhirnya Pitung justru bergabung dengan gerombolan perampok tersebut. Bersama kedua temannya, Rais dan Jii, Pitung merencanakan perampokan di rumah tuan tanah kaya. Dari hasil rampokan itulah kemudian mereka menaruh sepikul beras di rumah-rumah yang anggota keluarganya kelaparan, memberi santunan bagi keluarga yang terlilit hutang lintah darat, memberi baju dan beragam bingkisan bagi anak yatim piatu.

Namun, ada juga di antara rakyat jelata yang berkhianat kepada si Pitung, yaitu temannya yang berprofesi sebagai tukang cukur. Suatu hari, Si Pitung ingin meminta tolong kepada temannya tersebut untuk memotong rambutnya yang sudah terlalu panjang. Anehnya, rambut si Pitung belum terpotong juga. Lalu, si Pitung membocorkan rahasia kepada temannya bahwa rambutnya belum bisa dipotong kalau jimat-jimatnya yang dikenakannya belum dilepas. Setelah jimat-jimatnya dilepas, maka rambutnya baru bisa dicukur.

Si tukang cukur teman si Pitung ini membocorkan rahasia soal jimat rambut si Pitung kepada para kompeni dan para lintah darat untuk mendapat imbalan. Akhirnya, si tukang cukur tersebut diberi tugas oleh kompeni untuk mengawasi setiap gerak si Pitung.

 
Disayang Rakyat Kecil Namun Dibenci Tuan Tanah dan Kompeni

Karena aksinya membela kaum jelata tersebut, nama Pitung pun mulai harum di seantero Batavia. Semua orang mengelu-elukan aksi heroiknya, namun kabar ini tentu saja membuat para tuan tanah kaki tangan Belanda merasa gerah. Mereka melaporkan aksi si Pitung ini kepada penguasa penjajah di Batavia yang bernama Schout Heyne. Schout Heyne geram mendengar laporan tersebut dan memerintahkan anak-anak buahnya untuk segera menangkap Pitung. Ia pun tak segan untuk memberikan imbalan yang sangat besar bagi siapapun yang mau memberitahukan keberadaan Si Pitung.

 
Akhir Perjalanan Hidup Si Pitung

Pitung sadar ia mulai menjadi incaran Belanda dan memutuskan untuk berpindah-pindah tempat untuk mengecoh anak buah Schout Heyne. Selama masa buron tersebut, Pitung tetap menjalankan aksinya untuk merampok para tuan-tuan tanah dan memberikan harta rampasannya kepada para rakjat jelata.

Kesal karena Pitung tak kunjung tertangkap, Schout Heyne menggunakan cara licik dengan menangkap Bang Piun dan Haji Naipin untuk memancing Pitung keluar dari persembunyiannya. Ternyata cara tersebut sukses, mendengar kabar ayah dan gurunya ditangkap Belanda Pitung segera mengirimkan surat yang berisi kesiapannya untuk menyerahkan diri asalkan Bang Piun dan Haji Naipin dibebaskan terlebih dahulu.

Saat hari pembebasan itulah Pitung muncul di hadapan Schout Heyne dan para antek-anteknya. Tanpa rasa gentar ataupun takut, Pitung menagih janji Belanda untuk membebaskan kedua orang yang dihormatinya tersebut. Tak lama setelah keduanya dibebaskan, Schout Heyne memerintahkan para anak buahnya untuk menembak Pitung hingga akhirnya ia tewas bersimbah darah. Walaupun pada akhirnya Pitung gugur di tangan Belanda, namun namanya tetap dikenang oleh masyarakat Betawi sebagai pahlawan pemberani.

 
Sumber :

Folklor Betawi, Drs.Budiman, Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta, September 2000