Hari Buku Nasional

8

Hari ini, tanggal 17 Mei 2017 diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Pencanangan Hari Buku Nasional dimulai sejak tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Bapak Abdul Malik Fadjar. Pencanangan tersebut dirasa perlu mengingat hasil survey lembaga-lembaga internasional yang menempatkan Indonesia pada posisi rendah untuk minat membaca dan tingkat melek huruf. Bahkan dengan sesama negara ASEAN pun, minat baca dan tingkat melek huruf masyarakat Indonesia juga berada di bawah beberapa negara lain seperti Malaysia, Singapura, atau Vietnam. Tidak hanya itu, tingkat ketersediaan buku di Indonesia juga dirasa sangat kurang bila dibandingkan dengan negara lain. Di Indonesia, rata-rata 18.000 judul buku diterbitkan setiap tahunnya. Sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan Jepang yang mampu menerbitkan rata-rata 40.000 judul buku pertahun atau China yang mampu menerbitkan rata-rata 140.000 judul per tahun.

Sangat miris kalau kita membandingkan dengan pengguna internet di Indonesia. Indonesia memiliki 88,1 juta pengguna aktif internet, dimana 79 juta diantaranya adalah pengguna aktif social media. Indonesia bahkan merupakan salah satu pengguna terbesar aplikasi social media Facebook dan Twitter. Beberapa jam waktu yang kita miliki dalam sehari kita habiskan untuk mengakses social media tersebut. Mengacu pada tingginya minat pengguna social media di Indonesia inilah yang akhirnya mendorong Aksaramaya untuk mengembangkan sebuah aplikasi perpustakaan digital yang memungkinkan masyarakat untuk dapat membaca dari smartphone yang mereka miliki di mana saja dan kapan saja.

Mengingat bahwa masyarakat Indonesia tidak terlalu konsumtif untuk membeli buku, maka dirasa cukup sulit untuk mengharapkan orang-orang mau membaca buku digital bila mereka diharuskan untuk membayar. Jalan yang ditempuh oleh Aksaramaya adalah menggandeng pemerintah daerah, kementerian dan instansi-instansi untuk pengadaan buku-buku yang dapat diakses dan dibaca oleh masyarakat secara gratis. Maka lahirlah berbagai perpustakaan digital seperti iJakarta yang menggandeng Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, iPusnas yang menggandeng Perpustakaan Nasional, iTani yang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, iSantri yang merupakan kerja bareng dengan Kementerian Agama dan beberapa perpustakaan digital yang bekerjasama dengan pemerintah daerah seperti iMedan, iPekanbaru, iKaltim, iJogja, iSukabumi, iProbolinggo, dan iKaltara yang belum lama ini diresmikan. Ratusan ribu copy buku tersedia dengan beragam genre seperti novel, komik, biografi, hingga berbagai buku-buku kegemaran seperti beternak, memasak, fotografi hingga traveling. Semua dapat dipinjam secara gratis dalam jangka waktu tertentu sama halnya seperti saat kita meminjam buku di perpustakaan konvensional.

Harapannya tentu saja masyarakat Indonesia akan semakin dimudahkan untuk membaca buku. Selain itu, membaca juga dapat menjadi sebuah kegiatan positif yang dapat dilakukan diberbagai kesempatan. Misalnya saat sedang menunggu teman, dalam perjalanan, atau saat sedang bersantai di kafe. banyak sekali waktu-waktu luang yang dapat dimanfaatkan untuk membaca. Apalagi fitur social media yang berada dalam aplikasi perpustakaan digital ini juga dapat membuat para member dapat berinteraksi satu sama lain. Dengan adanya aplikasi perpustakaan digital ini, masihkah kita malas membaca buku ?